Home » » PENGARUH BESARAN TARIF TELEPON TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KARTU PRABAYAR (STUDI KASUS PADA PENGGUNA KARTU PRABAYAR TELKOMSEL DI KABUPATEN PIDIE

PENGARUH BESARAN TARIF TELEPON TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KARTU PRABAYAR (STUDI KASUS PADA PENGGUNA KARTU PRABAYAR TELKOMSEL DI KABUPATEN PIDIE

PENGARUH BESARAN TARIF TELEPON TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KARTU PRABAYAR (STUDI KASUS PADA PENGGUNA KARTU PRABAYAR TELKOMSEL DI KABUPATEN PIDIE

PENGARUH BESARAN TARIF TELEPON TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KARTU PRABAYAR (STUDI KASUS PADA PENGGUNA KARTU PRABAYAR TELKOMSEL DI KABUPATEN PIDIE
BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

            Perkembangan industri teknologi dan telekomunikasi sudah sangat pesat sejak dari awal tahun 2006. Sayangnya, perkembangan itu tidak diimbangi dengan regulasi yang memadai. Menurut Indonesia Telecommunication User Group, pemerintah memang telah mengatur bisnis para network provider, namun tidak secara keseluruhan.

Pada saat ini, pengguna ponsel sudah terbiasa dengan fasilitas SMS gratis dari operator seluler. Pelanggan akan mendapatkan fasilitas gratis kirim SMS setelah mengirim beberapa SMS sebelumnya. Fasilitas SMS gratis tersebut akan berakhir pada bulan Mei 2012 ini. Karena mulai 1 Juni 2012, Kemenkominfo akan memberlakukan peraturan baru yang melarang operator memberi fasilitas SMS gratis kepada pelanggan.

Kementerian Kominfo dan BRTI melalui Siaran Pers No. 84/PIH/ KOMINFO/12/2011 tanggal 11 Desember 2011 yang lalu telah mengumumkan kepada masyarakat tentang rencana pemerintah tersebut, sehingga seluruh operator telekomunikasi di Indonesia serentak akan meninggalkan skema Sender Keep All (SKA) dan beralih ke skema interkoneksi berbasis biaya (cost based) untuk penagihan tarif SMS lintas operator mulai tanggal 1 juni 2012.

Selama ini interkoneksi layanan pesan pendek atau SMS dilakukan dengan basis SKA dengan pertimbangan trafik SMS antar penyelenggara akan berimbang, namun penerapan skema SKA kerap disalahgunakan, seperti munculnya SMS broadcast, yaitu penyebaran SMS ke banyak pengguna telepon seluler dan SMS spamming atau SMS yang tidak diinginkan. Di sisi lain, sebagian masyarakat tidak menyadari bahwa tarif murah dan gratis disertai dengan syarat dan atau ketentuan tertentu. Selain itu, metode SKA biasanya dijadikan tempat promosi operator selular untuk memberikan SMS gratis ke operator lain, dengan demikian, operator pengirim pesan SMS memperoleh pendapatan, sementara operator penerima SMS mendapatkan trafik.

Upaya larangan penerapan SMS gratis pernah diinstruksikan pada April 2010. Tapi, tidak efektif dalam pelaksanaan. Kini dasar hukumnya telah kuat untuk mengikat operator. Apabila dilanggar, Kementrian Kominfo dan BRTI siap mengevaluasi.

Pemerintah menegaskan waktu pelaksanaan tidak bisa ditawar. Semua aspek teknis dan administratif sudah harus selesai sebelum 31 Mei 2012. Pemerintah juga terus memantau persiapan penyelenggara layanan SMS dan Asosiasi Kliring Trafik Telekomunikasi (Askitel) hingga skema baru ini dilaksanakan.\

Lembaga riset Frost & Sullivan melansir data tarif telepon di Indonesia. Rupanya, rata-rata biaya bercakap-cakap di Tanah Air yang dulu dipandang relatif mahal, kini menjadi yang paling murah di dunia.

Analis Frost & Sullivan Nitin Bhat menyatakan, tarif telepon di Indonesia sama dengan India. Kedua negara ini menjadi surga bagi para pengguna telepon. "Indonesia dan India merupakan negara dengan tarif telepon termurah di dunia, hanya sekitar USD 1 sen per menit," ujarnya di Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (6/2).

Negara tetangga menerapkan tarif lebih mahal. Malaysia sebagai contoh, biaya teleponnya USD 15 sen per menit, sementara Singapura USD 10 sen per menit. Selandia Baru bahkan menjadi negara tetangga yang biaya meneleponnya relatif mahal, mencapai USD 25 sen per menit.

Yang membuat tarif telepon di Indonesia menjadi murah adalah makin banyaknya perusahaan yang fokus menggarap bisnis telepon seluler. Alhasil, sempat terjadi perang harga dua tahun lalu, dan baru mereda tahun lalu.

Dengan kondisi itu, Bhat menyarankan agar operator telekomunikasi tidak terlalu fokus mencari pendapatan dari aktivitas menelepon (on voice revenue). Potensi operator mengeruk laba berada di sektor akses data melalui jaringan pita lebar (broadband).

Dengan tren aktivitas non-telepon yang terus meningkat, Bhat yakin operator besar seperti Telkomsel, XL, dan Indosat akan semakin memperkuat pendapatan dari data mobile. "Dengan asumsi itu, pendapatan non-voice bisa mencapai 40,7 persen dari total pemasukan seluruh operator di Indonesia tiga tahun mendatang," ungkapnya.

Pada Mei 2005, Telkomsel berhasil melakukan ujicoba jaringan 3G di Jakarta dengan menggunakan teknologi Motorola dan Siemens, sedangkan CAC baru melaksanakan ujicoba jaringan 3G pada bulan berikutnya. CAC melakukan ujicoba layanan Telepon video, akses internet kecepatan tinggi, dan menonton siaran MetroTV via ponsel Sony Ericsson Z800i. Setelah melalui proses tender, akhirnya tiga operator telepon seluler ditetapkan sebagai pemenang untuk memperoleh lisensi layanan 3G, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Excelcomindo Pratama (XL), dan PT Indosat Tbk (Indosat) pada tanggal 8 Februari 2006. Dan pada akhir tahun yang sama, ketiganya meluncurkan layanan 3G secara komersial.

Pada Agustus 2006, Indosat meluncurkan StarOne dengan jaringan CDMA2000 1x EV-DO di Balikpapan. Pada saat yang sama, Bakrie Telecom memperkenalkan layanan ini pada penyelenggarakan kuliah jarak jauh antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan California Institute for Telecommunication and Information (Calit2) di San Diego State University (UCSD) California.

Pemerintah melalui Depkominfo mengeluarkan Permenkominfo No. 01/2006 tanggal 13 Januari 2007 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio 2.1 GHz Untuk Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler IMT-2000, menyebutkan bahwa penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas hanya dapat beroperasi di pita frekuensi radio 1.900 MHz sampai dengan 31 Desember 2007. Jaringan pada frekuensi tersebut kelak hanya diperuntukan untuk jaringan 3G. Operator dilarang membangun dan mengembangkan jaringan pada pita frekuensi radio tersebut.

Maka, berdasarkan keputusan tersebut, para operator seluler CDMA berbasis FWA yang menghuni frekuensi 1.900 MHz harus segera bermigrasi ke frekuensi 800 MHz. Saat itu ada dua operator yang menghuni frekuensi CDMA 1.900 MHz, yaitu Flexi dan StarOne. Akhirnya, Telkom bekerjasama dengan Mobile-8 dalam menyelenggarakan layanan Fren dan Flexi, sedangkan Indosat dengan produk StarOne bekerja sama dengan Esia milik Bakrie Telecom. Jumlah pengguna layanan seluler di Indonesia mulai mengalami ledakan. Jumlah pelanggan layanan seluler dari tiga operator terbesar (Telkomsel, Indosat, dan Excelcom) saja sudah menembus 38 juta. Itu belum termasuk operator-operator CDMA. Hal ini disebabkan oleh murahnya tarif layanan seluler jika dibandingkan pada masa sebelumnya yang masih cukup mahal. jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 220 juta pada saat itu, angka 38 juta masih cukup kecil. Para operator masih melihat peluang bisnis yang besar dari industri telekomunikasi seluler itu. Maka, untuk meraih banyak pelanggan baru, sekaligus mempertahankan pelanggan lama, para operator memberlakukan perang tarif yang membuat tarif layanan seluler di Indonesia semakin murah.

Namun di balik gembar-gembor tarif murah itu, BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menemukan fakta menarik, ternyata para operator seluler telah melakukan kartel tarif layanan seluler, dengan memberlakukan tarif minimal yang boleh diberlakukan di antara para operator yang tergabung dalam kartel tersebut[28]. Salah satu fakta lain yang ditemukan BRTI dan KPPU adalah adanya kepemilikan silang Temasek Holdings, sebuah perusahaan milik Pemerintah Singapura, di PT Indosat Tbk (Indosat) dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)[29], yang membuat tarif layanan seluler cukup tinggi.

Maka, pemerintah melalui Depkominfo akhirnya mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan para operator seluler menurunkan tarif mereka 5%-40% sejak bulan April 2008, termasuk di antaranya penurunan tarif interkoneksi antar operator. Penurunan tarif ini akan dievaluasi oleh pemerintah selama 3 bulan sekali. Di Indonesia pada tahun 2009-2012 , telah beroperasi sejumlah 10 operator dengan perkiraan jumlah pelanggan sekitar 175,18 juta. Berikut ini adalah Tabel 1.1 Perolehan pelanggan per tahun 2009-2012  pada setiap Operator :

Tabel 1.1

Perolehan Pelanggan Per Tahun 2009-2012  Pada Setiap Operator

Operator
   

Produk
   

Jaringan
   

Jumlah Pelanggan (Q1-2009, kecuali ada catatan)

Bakrie Telecom
   

Esia
   

CDMA 800MHz
   

10,6 juta (Q4-2009)

Hutchison
   

3
   

GSM
   

6,4 juta

Indosat
   

IM3, Indosat Matrix, Indosat Mentari
   

GSM
   

33,1 juta (Q4-2009)

   

StarOne
   

CDMA 800MHz
   

570.000

Mobile-8
   

Fren, Mobi dan Hepi
   

CDMA 800MHz
   

3 juta

Natrindo
   

Axis
   

GSM
   

5 juta

Sampoerna Telekom
   

Ceria
   

CDMA 450MHz
   

780.000

Smart Telecom
   

Smart
   

CDMA 1.900MHz
   

>2 juta

Telkom
   

Flexi
   

CDMA 800MHz
   

13,49 juta

Telkomsel
   

Kartu AS, Kartu HALO dan Simpati
   

GSM
   

81,644 juta (Q4-2009)

XL Axiata
   

XL
   

GSM
   

31,437 juta (Q4-2009)

Sebagian besar operator telah meluncurkan layanan 3G dan 3,5G. Seluruh operator GSM telah mengaplikasikan teknologi UMTS, HSDPA dan HSUPA pada jaringannya, dan operator CDMA juga telah mengaplikasikan teknologi CDMA2000 1x EV-DO.

Akibat kebijakan pemerintah tentang penurunan tarif pada awal 2008, serta gencarnya perang tarif para operator yang makin gencar, kualitas layanan operator seluler di Indonesia terus memburuk, terutama pada jam-jam sibuk. Sementara itu, tarif promosi yang diberikan pun seringkali hanya sekedar akal-akalan, bahkan cenderung merugikan konsumen itu sendiri.

Jumlah pengguna seluler di Indonesia hingga bulan Juni 2010 diperkirakan mencapai 180 juta pelanggan, atau mencapai sekitar 80 persen populasi penduduk. Dari 180 juta pelanggan seluler itu, sebanyak 95 persen adalah pelanggan prabayar. Direktur Utama PT Telkomsel, Sarwoto mengatakan, dari sisi pendapatan seluruh operator seluler sudah menembus angka Rp100 triliun. Industri ini diperkirakan terus tumbuh, investasi terus meningkat menjadi sekitar US$2 miliar per tahun, dengan jumlah BTS mencapai lebih 100.000 unit

Dari uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik mengakat judul sebagai berikut: “PENGARUH BESARAN TARIF TELEPON TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KARTU PRABAYAR (STUDI KASUS PADA PENGGUNA KARTU PRABAYAR TELKOMSEL DI KABUPATEN PIDIE)”

1.2 Perumusan Masalah

Untuk menentukan solusi yang tepat dalam suatu permasalahan, maka terlebih dahulu permasalahan tersebut dianalisis dan disusun ke dalam bentuk formulasi yang sistematis. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas pada skripsi ini adalah:

1)        Bagaimana  Pengaruh  Besaran Tarif Telepon Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Memilih Kartu Prabayar di Kabupaten Pidie ?

2)        Apakah Besaran Tarif Telepon berpengaruh positif Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Memilih Kartu Prabayar di Kabupaten Pidie ?

3)        Bagaimana devinisi besaran tarif telepon dan keputusan konsumen dan hubungan tarif telepon dengan Keputusan Konsumen ?

1.3  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1)        Untuk  mengetahui Pengaruh  Besaran Tarif Telepon Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Memilih Kartu Prabayar di Kabupaten Pidie.

2)        Untuk  mengetahui Apakah Besaran Tarif Telepon berpengaruh positif Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Memilih Kartu Prabayar di Kabupaten Pidie ?

3)        Untuk  mengetahui Bagaimana devinisi besaran tarif telepon dan keputusan konsumen dan hubungan tarif telepon dengan Keputusan Konsumen ?

1.4  Manfaat Penelitian

1)        Bagi perusahaan

Sebuah masukan bagi perusahaan untuk dapat memenuhi kebutuhan dan menyediakan keinginan konsumen sampai mempromosikannya melalui sehingga konsumen mengetahui informasi, (besaran tarif telepon) yang melatarbelakangi konsumen sehingga perusahaan mampu mengubah perilaku konsumen terutama dalam keputusan konsumen. Serta salah satu cara mudah yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan.

2)        Bagi pihak lain

Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan apabila ingin melakukan penelitian pada masalah yang sama, serta dapat menambah wawasan pembaca.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemasaran

2.1.1  Pengertian Pemasaran

Perubahan selera konsumen, lingkungan ekonomi dan persaingan yang semakin tajam membuat peranan pemasaran sangat penting untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berkembang dan mendapatkan laba bagi perusahaan. Peran pemasaran sangat penting untuk mengetahui keinginan konsumen dan perusahaan berusaha memenuhinya.

Perusahaan banyak yang memproduksi barang yang sejenis, sehingga membuat konsumen lebih selektif dalam memilih produk mana yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Para pakar bidang pemasaran telah mengemukakan pendapatnyamengenai pemasaran.

Menurut Kotler, (2005:27), pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial di mana masing-masing individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai bagi pihak lain.

Definisi di atas menjelaskan bahwa pemasaran merupakan suatu proses kegiatan usaha untuk melaksanakan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan konsumen yang akan dipuaskan, pembuatan produk dijual, penentuan harga yang sesuai, penentuan cara-cara promosi dan penyaluran distribusi yang tepat.

2.1.2  Konsep Pemasaran

Swastha dan Handoko (2000:67) Pemasaran sangat penting bagi kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan, maka perusahaan perlu memahami konsep pemasaran yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen dan dapat mengarahkan seluruh kegiatan perusahaan untuk tujuan tersebut. Tiga unsur pokok konsep pemasaran yaitu:

1)    Orientasi pada konsumen

Perusahaan yang benar-benar ingin memperhatikan konsumen harus:

a)    Menentukan kebutuhan pokok (basic needs) dari pembeli yang akan dilayani dan dipenuhi.

b)    Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran penjualan.

Karena perusahaan tidak mungkin dapat memenuhi segala kebutuhan pokok konsumen, maka perusahaan harus memilih kelompok pembeli tertentu dari kelompok pembeli tersebut. Menentukan produk dan program pemasarannya. Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengurus, menilai, menafsirkan keinginan, sikap serta perilaku konsumen.

c)    Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik apakah menitikberatkan  pada  mutu yang  tinggi  harga murah atau model yang menarik.

2)    Penyusunan kegiatan pemasaran secara integral (integrated marketing)

Pengintegrasian kegiatan pemasaran berarti bahwa setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan turut berkecimpung dalam suatu usaha dengan terkoordinir untuk memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga tujuan perusahaan dapat direalisir.

3)    Keputusan pembelian.

Keputusan pembelian merupakan sikap seseorang untuk membeli atau menggunakan suatu produk baik berupa barang atau jasa yang telah diyakini akan memuaskan dirinya dan kesediaan menanggung risiko yang mungkin ditimbulkannya. Konsumen mengambil keputusan pembelian setiap hari. Pemasar perlu mengetahui apa yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian.

2.1.3 Manajemen Pemasaran

Philip Kotler dan Armstrong (2005:70) Perusahaan menginginkan semua kegiatan yang dijalankan berjalan dengan baik, berkembang dan memperoleh laba maksimal. Perusahaan memerlukan pengelolaan baik dalam melaksanakan seluruh kegiatan pemasaran untuk mencapai laba maksimal itu, pengelolaan dalam rangka melaksanakan kegiatan ntersebut dikenal dengan istilah manajemen pemasaran.

Definisi di atas menjelaskan bahwa manajemen pemasaran merupakan suatu proses yang menyangkut analisis, perencanaan dan pelaksanaan serta pengawasan program-program yang ditujukan untuk melayani pasar sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar agar terjadi pertukaran yang diinginkan baik yang menyangkut barang dan jasa, atau benda-benda lain yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis

sosial dan budaya.

2.2  Pengertian Tarif

            Pengertian tarif sering kali diartikan sebagai daftar harga (sewa, ongkos dan sebagainya) sehingga dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tarif sama dengan harga. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ahli mengenai pengertian tarif, sehingga menjadi jelas pengertian antara tarif dan harga.

Menurut Supriyono (2000;16), Tarif adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue  yang  akan  dipakai sebagai pengurang penghasilan.

Menurut Henry Simamora (2002;36), Tarif adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi.

Menurut Mulyadi (2001;8), Tarif adalah pengorbanan sumber ekonomis  yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Menurut  Masiyah  Kholmi, Yuningsih. (2002:97), Tarif adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.

Ibrahim Pranoto K (2002:55) mendefinisikan tarif sebagai berikut: tarif disebut juga bea atau duty yaitu sejenis pajak yang dipungut atas barang-barang yang melewati batas negara. Bea yang dibebankan pada impor barang disebut bea impor atau bea masuk (import tarif, import duty) dan bea yang dibebankan pada ekspor disebut bea ekspor, sedangkan bea yang dikenakan pada barang-barang yang melewati daerah pabean negara pemungut disebut bea transitu atau transit duty.

Menurut Hamdy Hady (2000:65) tarif adalah pungutan bea masuk yang dikenakan atas barang impor yang masuk untuk dipakai/ dikonsumsi habis di dalam negeri.

Menurut Sobri, (2003:71) yaitu suatu pembebanan atas barang yang melintasi daerah pabean (costum area). Daerah pabean adalah suatu daerah geografis, yang mana barang-barang bebas bergerak tanpa dikenakan cukai (= bea pabean). Sedangkan menurut Tulus T.H. Tambunan,  (2004:328) tarif adalah salah satu instrumen dari kebijakan perdagangan luar negeri yang membatasi arus perdagangan internasional.

Selanjutnya menurut Aliminsyah, (2002:290-291) mendefinisikan tarif sebagai pengaturan yang sistematik dari bea yang dipungut atas barang dan jasa yang melewati batas-batas Negara.

Dari pendapat-pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tarif merupakan pungutan  yang dibebankan untuk semua barang-barang yang melewati batas negara baik untuk barang yang masuk maupun keluar. Tarif merupakan salah satu kebijakan pemerintahan dalam mengatasi perdagangan dalam negeri dan merupakan salah satu devisa negara.

2.2.1    Penggolongan Tarif

Menurut Mulyadi (2005:13), Tarif digolongkan sebagai berikut;

1.    Menurut Objek Pengeluaran. Penggolongan ini merupakan penggolongan yang paling sederhana, yaitu berdasarkan penjelasan  singkat mengenai suatu objek pengeluaran, misalnya pengeluaran yang berhubungan dengan telepon disebut “tarif telepon”.

2.    Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan, tarif dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu: (1). Tarif Produksi, yaitu semua tarif yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Tarif produksi dapat digolongkan ke dalam tarif bahan baku, tarif tenaga kerja, dan tarif overhead pabrik. (2). Tarif Pemasaran, adalah tarif-tarif yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contohnya tarif iklan, tarif promosi, tarif sampel, dll. (3). Tarif Administrasi dan Umum, yaitu tarif-tarif untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran produk, contohnya gaji bagian akuntansi, gaji personalia, dll.

3.    Menurut Hubungan Tarif dengan Sesuatu Yang Ditarifi. Ada 2 golongan, yaitu: (1). Tarif Langsung (direct cost), merupakan tarif yang terjadi dimana penyebab satu-satunya adalah karena ada sesuatu yang harus ditarifi. Dalam kaitannya dengan produk, tarif langsung terdiri dari tarif bahan baku dan tarif tenaga kerja langsung.(2). Tarif Tidak Langsung (indirect cost), tarif yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang ditarifi, dalam hubungannya dengan produk, tarif tidak langsung dikenal dengan tarif overhead pabrik.

4.    Menurut Perilaku dalam Kaitannya dengan Perubahan Volume Kegiatan, tarif dibagi menjadi 4, yaitu (1). Tarif Tetap (fixed cost), tarif yang jumlahnya tetap konstan tidak dipengaruhi perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai tingkat kegiatan tertentu, contohnya; gaji  direktur produksi. (2). Tarif Variabel (variable cost), tarif yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas, contoh; tarif bahan baku, tarif tenaga kerja langsung. (3). Tarif Semi Variabel, tarif yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Tarif semi variabel mengandung unsur tarif tetap dan tarif variabel, contoh; tarif listrik yang digunakan. (4). Tarif Semi Fixed, tarif yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

5.    Menurut Jangka Waktu Manfaatnya, tarif dibagi 2 bagian, yaitu; (1). Pengeluaran Modal (Capital Expenditure), yaitu pengeluaran yang akan memberikan manfaat/benefit pada periode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang. (2). Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure), pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran itu terjadi.

2.2.2. Tarif Pemasaran

Menurut Mulyadi (2005:487), Tarif pemasaran dalam arti sempit dibatasi artinya sebagai tarif penjualan, yaitu tarif-tarif yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar. Sedangkan tarif pemasaran dalam arti luas meliputi semua tarif yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai.

Menurut Hansen & Mowen (2001:47), Tarif pemasaran adalah tarif-tarif yang diperlukan untuk memasarkan produk atau jasa, meliputi tarif gaji dan komisi tenaga jual, tarif iklan, tarif pergudangan dan tarif pelayanan pelanggan.

Menurut Henry Simamora (2002:37), Tarif pemasaran atau penjualan (Marketing Cost) meliputi semua tarif yang dikeluarkan untuk mendapat pesanan pelanggan dan menyerahkan produk atau jasa ke tangan pelanggan.

2.2.3.  Penggolongan Tarif Pemasaran

Mulyadi, (2005:488), menggolongkan tarif pemasaran menjadi dua golongan, yaitu: (1).Order Getting Cost (Tarif untuk mendapatkan pesanan), yaitu semua tarif yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contohnya; tarif gaji dan wiraniaga, komisi penjualan, advertensi dan promosi. (2). Order Filling Cost (Tarif untuk memenuhi pesanan), yaitu semua tarif yang dikeluarkan dalam rangka mengusahakan agar produk sampai ke tangan pembeli/konsumen. Contohnya; tarif pergudangan, tarif pengangkutan dan tarif penagihan.

1)        Tarif Promosi

Tarif promosi adalah sejumlah tarif yang dikeluarkan untuk promosi.

2)        Tarif Layanan Konsumen

Tarif layanan konsumen adalah sekumpulan tarif yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, dan menggunakan produk atau jasa tersebut.

2.2.4. Besaran tarif

            Besaran tarif merupakan kisaran harga yang ditetapkan baik itu dari intansi pemerintah atau perusahan sesuai dengan peraturan pemerintah dan tidak melanggar undang-undang tentang penetapan tarif, bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, telah diatur mengenai ketentuan-ketentuan tarif jasa telekomunikasi;

Peraturan menteri komunikasi dan informatika tentang tata cara penetapan tarif awal dan tarif perubahan jasa teleponi dasar melalui jaringan tetap adalah sebagai berikut :

1.    Penyelenggara jasa telekomunikasi adalah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta atau koperasi yang menyediakan dan memberikan pelayanan jasa telekomunikasi meliputi jasa teleponi dasar , jasa nilai tambah teleponi dan atau jasa multimedia;

2.    Penyelenggara jaringan telekomunikasi tetap adalah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta atau koperasi yang menyediakan dan memberikan pelayanan jaringan telekomunikasi tetap;

3.    Penyelenggara jasa teleponi dasar melalui jaringan tetap adalah penyelenggara jasa tersebut atas penyelenggara jaringan yang memberikan layanan jasa teleponi dasar pada jaringan tetap

4.    Tarif awal adalah tarif yang ditetapkan oleh penyelenggara berdasarkan formula perhitungan tarif pada saat awal beroperasi;

5.    Tarif perubahan adalah tarif yang ditetapkan oleh penyelenggara berdasarkan formula penyesuaian tarif;

6.    Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) adalah sambungan langsung antarpelanggan jasa telekomunikasi domestik dan menurut ketentuan yang berlaku berada didalam kelompok zoning percakapan jarak jauh;

7.    Zoning adalah pengelompokan jarak yang diukur dari lokasi titik-titik pelanggan dan digunakan sebagai dasar pembebanan biaya percakapan lokal atau PJJ;

8. `Panggilan lokal (PL) adalah panggilan lokal yang dilakukan oleh pelanggan telepon tetap terhadap pelanggan jaringan lokal setempat;

9.    Panggilan lokal tetap selular (PLTS) adalah panggilan yang dilakukan oleh pelanggan jaringan tetap lokal terhadap pelanggan STBS setempat

10. Panggilan jarak jauh (PJJ) adalah panggilan yang dilakukan oleh pelanggan jaringan tetap lokal terhadap pelanggan jaringan tetap lokal lainnya yang berada di dalam kelompok zoning yang berbeda;

11. Panggilan jarak jauh tetap selular (PJJTS) adalah panggilan yang dilakukan oleh pelanggan jaringan tetap lokal terhadap pelanggan STBS yang berada dalam daerah layanan yang berbeda.

12. Panggilan internasional (PI) adalah panggilan yang dilakukan oleh pelanggan jaringan tetap lokal terhadap pelanggan di luar wilayah penyelenggaraan telekomunikasi domestik/Indonesia;

13. Daerah layanan STBS adalah bagian wilayah pelayanan yang dapat dilayani sistem STBS tanpa melakukan penjelajahan dan berada pada suatu lokasi tertentu (home location).

14. Wilayah layanan STBS adalah cakupan pelayanan sesuai ijin penyelenggara STBS (regional atau nasional);

15. Sambungan Telepon Bergerak Selular (STBS) adalah jasa komunikasi telepon yang menggunakan gelombang radio dengan teknologi selular, baik analog maupun digital;

16. Indeks Harga Konsumen (Customer Price Index (CPI)) adalah perubahan indeks harga konsumen yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS);

2.3. Keptusan Pelanggan/konsumen

2.3.1.  Pengertian pengambilan keputusan Pelanggan/ Konsumen

            Perilaku pelanggan adalah aktifitas atau proses seseorang ketika melakukan hal yang berhubungan dengan pemilihan, pencarian, penggunaan serta pengevoluasian produk dan jasa memenuhi kebutuhan perilaku  pelanggan  merupakan hal- hal yang mendasari pelanggan untuk membuat keputusan.

Menurut John C. Mowen dan Michael Minor (2000:75) mendefinisikan  perilaku  pelanggan sebagai studi tentang unit pembelian (buying unit) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan,  konsumsi  berbagai  produk, jasa  dan  pengalaman  serta  ide-ide.

Menurut Lamb, Hair dan Mc. Daniel (2003: 82), menyatakan bahwa perilaku pelanggan adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan penggunaan produk.

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (2001: 98), menyatakan bahwa perilaku pelanggan adalahtindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.

2.3.2.  Proses Pengambilan Keputusan Pelanggan

Segala sesuatu pasti ada prosesnya, begitu juga pada pengambilan keputusan, semua keputusan pastinya diambil dengan didasari hal-hal yang kuat. Berikut adalah proses pengambilan keputusan pelanggan:

1)      Pengenalan masalah (problem recognition).

Pelanggan akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, pelanggan tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.

2)       Pencarian informasi (information source).

Setelah memahami masalah yang ada, pelanggan akan termotivasi  untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan  yang ada melalui pencarian  informasi. Proses pencarian informasi  dapat  berasal  dari dalam memori (internal) dan  berdasarkan  pengalaman  orang lain (eksternal).

3)      Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation).

Setelah pelanggan mendapat berbagai macam informasi, pelanggan akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

4)    Keputusan pembelian (purchase decision).

Setelah pelanggan mengevaluasi  beberapa  alternatif  strategis  yang ada, pelanggan akan membuat keputusan pembelian.  Terkadang  waktu  yang  dibutuhkan  antara  membuat keputusan  pembelian  dengan  menciptakan pembelian  yang  aktual tidak sama  dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu di pertimbangkan.

5)    Evaluasi pasca pembelian (post-purchase evaluation)

Merupakan proses evaluasi yang dilakukan pelanggan tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli  produk  tersebut, pelanggan akan  melakukan  evaluasi  apakah produk   tersebut  sesuai  dengan  harapannya.

Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan  pelanggan. Pelanggan akan puas jika  produk  tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan  permintaan  akan merek  produk tersebut pada masa depan.  Sebaliknya, pelanggan akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan pelanggan  pada  masa depan.

2.3.3. Model  Keputusan  Pembelian

Perilaku konsumen yang teramati dari perilaku pembelian konsumen merupakan salah satu tahap dari proses pembuatan atau pengambilan keputusan konsumen (Consumen Decision Making).  Proses pengambilan keputusan konsumen meliputi serangkaian kegitan mulai dari identifikasi kebutuhan,

2.3.4. Pembuatan Keputusan Konsumen

Pencarian alternatif, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan evaluasi perilaku purna beli. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

a.    Pengenalan Kebutuhan

Proses membeli diawali dengan adanya kebutuhan. Kebutuhan timbul karena adanya perbedaan antara keadaan yang sesungguhnya dengan keadaan yang diinginkan. Kebutuhan adalah kekuatan salah satu bagian dari otak untuk mengatur dan mengarahkan perilaku, akal dan tubuh agar dapat mempertahankan keadaan terbaik organisme itu. Pengenalan kebutuhan pada hakikatnya tergantung pada banyaknya ketidaksesuaian antara keadaan actual dengan keadaan yang diinginkan. Jika ketidaksesuaian melebihi tingkat  tertentu kebutuhan pun akan dikenali. Misalnya seorang yang lapar (keadaan actual) dia ingin menghilangkan perasaan itu (keadaan yang diinginkan) akan mengalami pengenalan kebutuhan jika ketidaksesuaian diantaranya cukup besar. Kebutuhan manusia dibagi dua yaitu:

(1)   Kebutuhan yang berasal dari tegangan sistem yang bersifat fisiologis seperti lapar, haus, sex.

(2)   Kebutuhan yang berdasarkan tegangan sistem yang terdapat dalam kondisi subyektif kejiwaan seseorang (kebutuhan psikologis) yang berkaitan dengan kebutuhan psikogenik.

Selanjutnya kita dapat menyimpulkan sesudah konsumen mengidentifikasi masalah akan melakukan proses lebih lanjut, yang dipengaruhi oleh tingkat pentingnya kebutuhan tersebut serta sumber daya yang dimiliki oleh konsumen. Pada akhirnya apakah konsumen akan melakukan proses lebih lanjut keputusan pembelian, ditentukan oleh sikap baik dirinya maupun sikap orang lain terhadap produk tersebut. Untuk dapat dikenali, kebutuhan harus diaktifkan dulu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengaktifan kebutuhan antara lain keadaan yang berubah yaitu kebutuhan akan sering diaktifkan oleh perubahan di dalam kehidupan seseorang. Karyawan yang dipindah ke daerah lain lain akan mengenali kebutuhan untuk menendpatkan tempat tinggal yang baru. Kenaikan gaji mungkin menurunkan daya tarik mobil yang sekarang ada dibandingkan dengan apa yang sekarang ingin dibeli. Perubahan di dalam keluarga juga dapat memicu pengenalan kebutuhan. Sebagai contoh, kelahiran anak mengakibatkan kebutuhan untuk makanan, pakaian, perabot bayi.

a.         Pemerolehan Produk

Pemerolehan produk pada gilirannya akan mengaktifkan kebutuhan akan produk tambahan. Misalnya pemerolehan perabot baru akan mempengarulii keinginan akan karpet baru, pelapis dinding,dan sebagainya.

b.        Konsumsi Produk

Konsumsi aktual itu sendiri dapat mengaktifkan kebutuhan. Dalam banyak situasi pembelian, suatu kebutuhan diaktifkan karena ada situasi kehabisan persediaan. Pakaian yang dipakai menyadarkan bahwa kita butuh pakaian baru. Sejauh mana produk memenuhi harapan konsumen selama konsumsi mempengaruhi pengenalan kebutuhan. Ketika suatu produk memenuhi harapan ini, maka keadaan selaras. Sehingga tidak menimbulkan kebutuhan, tetapi jika keadaan yang diinginkan dan yang senyatanya tidak selaras maka akan mengaktifkan kebutuhan.

c.         Pengaruh Pemasaran

Pemasar dapat mengaktifkan kebutuhan dalam diri konsumen dengan merangsang kebutuhan mereka melalui program pemasaran.

d.        Perbedaan individu.

Ada konsumen yang mengenali kebutuhan dari keadaan actual dan ada konsumen yang mengenali kebutuhan dari keadaan yang diinginkan. Dalam pengambilan keputusan pembelian, setelah seseorang menyadari adanya kebutuhan maka langkah berikutnya adalah mencarai informasi dan kemudian memprosesnya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam penentuan keputusannya.

b.    Pencarian Informasi

Setelah konsumen menyadari adanya masalah kebutuhan dan kebutuhan tersebut dirasa sangat mendesak untuk dipenuhi maka konsumen akan mencari alternatif dari berbagai pemuas kebutuhan yang potensial. Konsumen tidak membeli suatu produk jika produk tersebut tidak memuaskan kebutuhannya, sehingga konsekuensinya pencarian yang didasari dengan tujuan untuk menemukan tentang produk dan segala sesuatu yang berkaitan dengan produk yang sesuai dengan kebutuhannya.  Dalam pencarian informasi konsumen dapat memperoleh dari sumber internal dan sumber eksternal. Sumber internal berkaitan dengan adanya pengalaman yang berhubungan dengan situasi pembelian. Sumber eksternal berkaitan dengan adanya berbagai informasi yang diperoleh mengenai manfaat dan biaya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mencari lebih banyak informasi dalam pengambilan keputusannya  yaitu:

1.        Keterlibatan konsumen

Jika konsumen memiliki keterlibatan yang tinggi dalam pembelian produk maka konsumen akan lebih banyak.

2.        Mencari informasi sebelum melakukan pembelian

Konsumen memiliki tingkat keterlibatan tinggi pada produk jika produk tersebut:

a.    Menimbulkan risiko

b.    Penting bagi konsumen

c.    Secara terus menerus menarik bagi konsumen

d.   Mempunyai daya tarik emosional

e.    Dapat di identifikasikan pada norma kelompok

3.    Pengetahuan produk yang rendah

Jika konsumen kurang memiliki informasi tentang produk yang akan dibeli maka konsumen cenderung mencari informasi sebanyak-banyaknya. Misalnya seseorang yang akan membeli komputer seri terbaru maka ia cenderung mencari informasi yang lebih banyak dari pada kalau ia akan membeli komputer seri lama yang pernah ia beli.

4.    Tersedia banyak waktu atau  tidak ada tekanan waktu

Konsumen yang memiliki banyak waktu memungkinkan untuk mencari informasi yang lebih banyak dari pada konsumen yang mengalami tekanan waktu. Konsumen yang memiliki keterbatasan waktu akan lebih sedikit atau bahkan tidak melakukan pencarian informasi dan hanya akan menggukan informasi yang telah ia miliki untuk melakukan pembelian.

1)      Harga produk mahal

Semakin tinggi harga produk, semakin tinggi probabilitas pencarian informasi.

2)      Terdapat perbedaan produk

Jika produk memiiki perbedaan secara sustansial maka pencarian informasi akan semakin banyak. Misalnya furniture memiliki beberapa merek. Karena mereknya beragam maka desain dan kualitasnya pun beragam pula, maka pencarian informasi akan lebih banyak dilakukan.

c.    Evaluasi Alternatif

Segera setelah atau bersamaan dengan diperolehnya informasi maka konsumen akan melakukan pemrosesan informasi untuk mengevaluasi alternatif yang ada dan memilih satu atau beberapa alternatif terbaik. Pemrosesan informasi tergantung tingkat keterlibatan konsumen. Konsumen yang memiliki keterlibatan tingi akan secara aktif mencari informasi dan memprosesnya untuk dijaidkan dasar pengambilan keputusan. Pemrosesan informasi dilakukan untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dari pengambilan keputusan yang akan dibuat. Adapun risiko yang mungkin muncul karena berbagai faktor berikut  :

1)        Terdapat sedikit informasi mengenai kategori produk

2)        Produk adalah baru

3)        Produk secara teknologi adalah kompleks

4)        Konsumen mempunyai kepercayaan diri yang rendah dalam mengevaluasi merek

5)        Terdapat variasi kualitas di antara merek –merek produk yang ada

6)        Harga produk tinggi

7)        Produk yang dibeli adalah produk yang sangat penting bagi konsumen.

Dalam evaluasi alternatif ini pada intinya konsumen akan memilih dari berbagai produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Konsumen akan melihat setiap produk merupakan suatu himpunan dari ciri dan sifat tertentu yang mempunyai manfaat kegunaan dari suatu produk. Dalam menetukan kriteria evaluasi tidak lepas dari motivasi masing-masing. Motivasi yang berbeda akan menentukan kriteria evaluasi yang berbeda pula.

2.3.5.  Peranan Pelanggan/Konsumen

            Menurut Fandi Tjiptono (2005:41),  peranan pelanggan/konsumen terdiri atas hal – hal sebagai berikut :

a.         User, adalah orang yang benar – benar (secara aktual) mengkonsumsi atau menggunakan produk atau mendapatkan manfaat dari produk atau jasa yang dibeli.

b.        Payer, adalah orang yang mendanai atau membiayai pembelian.

c.         Buyer, adalah orang yang berpartisipasi dalam pengadaan produk dari pasar.

Masing – masing peranan di atas bias dilakukan oleh satu orang, bisa pula oleh individu yang berbeda. Jadi sesorang bisa menjadi user, sekaligus payer, dan buyer. Selain itu, bisa juga individu A menjadi payer, B menjadi user, dan C menjadi buyer. Itu semua tergantung kepada konteks atau situasi pembelian.

2.3.6.      Faktor – faktor Perilaku Pelanggan/Konsumen

Pada dasarnya pelanggan/konsumen tidak sembarangan dalam membuat keputusan membeli. Banyak faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen antara lain:

1)      Faktor Kebudayaan

Suatu kebudayaan yang merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dari perilaku konsumen yang bertindak berdasarkan naluri, misalnya seorang anak yang sedang tumbuh mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, kebiasaa, preferensi dan perilaku melalui proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan lembaga – lembaga sosial lainnya. Berbeda dengan seorang anak yang dibesarkan di Amerika akan terbuka pada nilai – nilai : prestasi dan keberhasilan, kegiatan efisiensi, dan kepraktisan, kemajuan, kenyaman dari segi materi, individualisme, kebebasan, kenyamanan diluar, kemanusiaa dan jiwa muda. Faktor kebudayaan suatu masyarakat terdiri atas :

a)      Budaya

Yaitu suatu perilaku yang mempelajari serangkaian nilai pokok, persepsi freperensi dan perilaku melalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan lembaga lainnya. Akan tetapi apabila nilai budaya yang sudah berakhir dalam diri seseorang atau masyarakat akan mempengaruhi perilaku sesorang dalam melakukan pembelian terhadap barang atau jasa. Dengan demikian pergeseran – pergeseran nilai budaya yang terjadi di masyarakat harus diikuti secara cermat oleh pemasar, karena pergeseran tesebut akan menciptakan kesempatan-kesempatan baru untuk menghasilakn produk barang yang diperlukan.

b)      Sub Budaya

Merupakan setiap budaya yang terdiri dari sub budaya yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi para anggota-anggotanya. Sub Budaya terdiri dari Bangsa, Agama, Kelompok ras, dan Daerah geografis. Banyak Sub Budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

c)      Kelas social

Merupakan kelompok – kelompok yang relatif homogen danbertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan secara tepat dan cermat baik yang menyangkut produk, harga, distribusi, dan pro,osi, perlu selaras, seiring dengan kelas sosial yang akan dituju, karena semuanya itu akan mempengaruhi perilaku mereka dalam membeli.

2)      Faktor Sosial

Merupakan perilaku konsumen didalam melakuka pembelian atas barang atau jasa yang diperlukan juga sangat dipengaruhi oleh faktor social dari konsumen itu sendiri, antara lain yaitu :

a)        Kelompok referensi

Merupakan kelompok yang mempunyai pengaruh lansung (tatap muka) atau tidak lansung terhadap sikap dan perilaku orang tersebut. Beberapa diantaranya adalah kelompok – kelompok primer yang dengan interaksi yang cukup berkesinambungan seperti keluarga, teman, tetangga, dan teman sejawat. Kelompok – kelompok sekunder yang cenderung lebih resmi dan yang mana interaksi yang terjadi kurang bersinambungan. Kelompok yang seseorang ingin menjadi anggotanya disebut kelompok aspirasi, sebuah kelompok diasosiasiatif (memisahkan diri) adalah sebuah kelompok yang nilai atau perilakunya tidak disukai oleh individu.

b)        Keluarga

Merupakan suatu peran yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan perilaku pembeli untuk membeli setiap barang  yang dibutuhkan karena anggota keluarga pembeli secara lansung atau tidak dapat menentukan suatu pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli.

Perbedaan antara keluarga dalam kehidupan pembeli pertama dapat dilihat dari keluarga orientasi yang merupakan orang tua dari seseorang yang mendapatkan pandangan tentang agama, politik, ekonomi, dan merasakan ambisi pribadi nilai atau harga diri dan cinta sedangkan, yang kedua keluarga prokreasi yaitu pasangan hidup anak – anak seorang keluarga merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat dan telah diteliti secara itensif.

c)        Peran dan Status

Merupakan suatu peran yang dimiliki seseorang berpartisipasi pada dalam banyak kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan status. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang dan setiap peran memiliki status.

3)      Faktor Pribadi

Merupakan suatu faktor yang berhubungan secara lansung dalam kehidupannya. Faktor pribadi dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam diantaranya :

a)        Umur dan Tahapan dalam siklus hidup

Yaitu seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga, beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasikan tahapan – tahapan dalam hidup psikologis. Dan biasanya orang – orang dewasa mengalami perubahan atau tranformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya.

b)        Pekerjaan

Merupakan para pemasar berusaha mengidentifikasikan kelompok–kelompok pekerja yang memiliki minat diatas rata – rata terhadap produk barang tertentu.

c)        Keadaan ekonomi

Merupakan suatu keadaan ekonomi seorang konsumen yang terdiri dari: pertama, pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), kedua tabungan dan hartanya (termasuk persentase yang mudah dijadikan uang), sedangkan yang ketiga kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluaran lawan menabung.

d)       Gaya Hidup

Merupakan pola hidup didunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seorang konsumen. Gaya hidup biasanya menggambarkan seseuatu dibalik kelas sosial seseorang.

e)        Kepribadian dan konsep diri

Merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relative konsisten. Dan kepribadian dapat merupakan suatu variable yang sangat berguna dalam menganalisis perilaku konsumen.

4)      Faktor Psikologis

Merupakan faktor yang mempengaruhi suatu keadaan dan tahap kehidupan konsumen. Ada beberapa macam yang termasuk faktor psikologis diantaranya adalah:

a)        Motivasi

Merupakan Seseorang yang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu beberapa kebutuhan yang bersifat biogenik yang timbul dari keadaan psikologis tertentu misalnya rasa lapar, rasa haus, dan rasa tidak nyaman sedangkan yang bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari keadaan psikologis tertentu misalnya kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima. Periset motivasi praktis yang lebih baru menyatakan setiap produk mampu membangkitkan sekumpulan motif yang unik dalam diri konsumen.

b)        Persepsi

Merupakan suatu proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan, masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Dengan demikian orang dapat memiliki persepsi yang berbeda dari objek yang sama karena adanya 3 proses yaitu perhatian, gangguan, dan mengingat kembali yang selektif yang mempunyai arti bahwa para pemasar atau perusahaan harus bekerja keras agar pesan yang disampaikan dapat diterima.

c)        Proses belajar

Merupakan suatu proses yang menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman.

d)       Kepercayaan dan sikap

Merupakan suatu gagasan deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

Mengenali Perilaku Konsumen tidaklah mudah, kadang mereka terus terang menyatakan kebutuhan dan keinginannya, namun sering pula mereka bertindak sebaliknya. Untuk itulah dari beberapa penjelasan diatas dapat membantu para pemasar atau perusahaan ritel untuk mengetahui betapa pentingnya perilaku konsumen. yang diserta faktor – faktor perilaku konsumen untuk dijadikan sebagai bahan pemecahan masalah dan membantu perusahaan dalam memasarkan barang dan jasa, sehingga tujuan perusahaan pun akan tercapai.

2.3      Penelitian Sebelumnya

Dalam melengkapi penelitian ini, penulis menggunakan penelitian sebelumnya berupa skripsi.

Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Sari (2011) “pengaruh kualitas produk, promosi dan desain terhadap keputusan pembelian kendaraan bermotor Yamaha mio di Banda Aceh”. Menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk sepeda motor Yamaha Mio.

Penelitian yang dilakukan oleh Samsul Rizal (2009) dengan judul Pengaruh Brand  Image terhadap keputusan pembelian konsumen pada super market Pante Perak banda aceh.

Penelitian yang dilakukan oleh Maskur (2010) dengan judul Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Display, dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Laptop Acer di Kota Bireuen.

Dari ketiga penelitian tersebut dinyatakan bahwa varibel dependen (X) berpengaruh positif terhadap terikat (Y).

2.4      Kerangka Pemikiran

Berikut ini merupakan gambar Kerangka Pikir penelitian:

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran



2.5      Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian.

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut : “ Diduga Besaran Tarif  Telepon berpengaruh positif terhadap Keputusan Konsumen memilih Kartu Prabayar Telkomsel di Kabupaten Pidie ”.

                                                                          BAB III

                                                          METODE PENELITIAN  

                           

3.1  Lokasi, Waktu dan Obyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pidie.Waktu penelitian yang dijadwalkan hingga rampung hasil penelitian ini diperkirakan kurang lebih dua bulan dimulai dari bulan Februari 2014  sampai dengan bulan  April tahun 2014. Sedangkan  obyek  Penelitian ini akan membahas secara ringkas tentang deskripsi perusahaan, deskripsi  responden, dan analisis indeks jawaban responden per variabel independen dan dependen

3.2 Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal  di Kabupaten Pidie serta Karyawan Telkomsel di Kabupaten Pidie. Sedangkan penarikan sampel dilakukan dengan metode penelitian Convinince terhadap responden / masyarakat yang menggunakan kartu Prabayar Telkomsel, dimana yang menjadi sampel penelitian ini berjumlah 50 responden ( masyarakat dan karyawan ).

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut :

1)      Wawancara

Wawancara yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada responden (Subagyo, 2002:39). Dalam penelitian ini wawancara diajukan kepada Masyarakat atau Karyawan perusahaan telkomsel di Kabupaten Pidie.

2)      Kuesioner

Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut (Umar Husen , 2000:167).

3)      Studi Kepustakaan

Merupakan Kegiatan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penelitian yang berasal dari jurnal-jurnal ilmiah, literatur-literatur serta publikasi-publikasi lain yang layak dijadikan sumber.

3.4  Skala Pengukuran Data

Data hasil penelitian penelitian yang diperoleh melalui penyebaran  kuisioner dalam bentuk kualitatif dikomposisikan terlebih dahulu agar menjadi data kuantitatif. Adapun nilai kuantitatif yang dikomposisikan dilakukan dengan menggunakan Skala Likert dan untuk satu pilihan dinilai dengan jarak interval 1. Nilai dari pilihan tersebut antara lain : 1,2,3,4,5. Masing-masing pilihan tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Tabel 3.1

Skala Likert

       STS                        TS                     KS                      S                             SS

1
   

   

2
   

   

3
   

   

4
   

   

5

3.5  Metode Analisis Data

Analisis adalah kegiatan untuk memanfaatkan data sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu hipotesa. Dalam analisis diperlukan imajinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu (Subagyo, 2013:106).  Penelitian ini menggunakan analisis Regresi Berganda dengan pengolahan data menggunakan SPSS 21 for Windows.

1)        Analisis Kualitatif

Analisis Kualitatif adalah analisis yang berdasarkan data yang dinyatakan dalam bentuk uraian. Data kualitataif merupakan data berupa informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untukmendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran sehingga memperoleh gambaran baru atau menguatkan suatu gambaran yang sudah ada.

2)        Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitaif ini dimaksudkan untuk memperkirakan besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan satu atau beberapa kejadian lainnya dengan menggunakan statistik.

Adapun tahapan-tahapan pengolahan sebagai berikut :

a)        Pengeditan (Editing)

Memilih atau mengambil data yang perlu dan membuang data yang dianggap tidak perlu, untuk memudahkan perhitungan dalam pengujian hipotesa.

b)        Pemberian Kode (Coding)

Proses pemberian kode tertentu terhadap macam dari kuesioner untuk kelompok ke dalam kategori yang sama.

c)        Tabulasi

Adalah perhitungan data yang telah dikumpulkan dalam masing-masing kategori sampai tersusun dalam tabel yang mudah dimengerti.

3.6 Peralatan Analisis Data

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh  Besaran Tarif Telepon Terhadap Keputusan Pelanggan Dalam Memilih Kartu Prabayar Telkomsel di Kabupaten Pidie, dengan variabel tersebut dapat disusun dalam fungsi atau persamaan sebagai berikut (Imam Ghozali, 2005:82) :

Y = a + b1 X1  + e

Dimana :

Y =  Keputusan Pelanggan

a   = Konstanta

b1 = Koefisien regresi variabel X (Besaran Tarif Telepon)

X = Besaran Tarif Telepon

 e = error

3.7 Devinisi Operasional Variabel

Definisi variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini digunakan sejumlah variabel yang dibagi menjadi dua bagian yaitu : variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat). Definisi operasional masing-masing variable adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2

Definisi Operasional Variabel

Variabel
   

Definisi
   

Indikator
   

Ukuran
   

Skala
   

Item Pertanyaan

1.Besaran Tarif Telepon

   

Besaran tarif merupakan kisaran harga yang ditetapkan baik itu dari intansi pemerintah atau perusahan sesuai dengan peraturan pemerintah dan tidak melanggar undang-undang tentang penetapan tarif, bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, telah diatur mengenai ketentuan-ketentuan tarif jasa telekomunikasi
   

1.    Anda cenderung memilih Kartu Prabayar Telkomsel karena menyadiakan bermacam bonus

2.    Anda cenderung memilih Kartu Prabayar Telkomsel karena tarif teleponnya paling murah

3.    Anda cenderung memilih Telkomsel tarif promo tahunan

4.    Anda tertarik sama Kartu Prabayar Telkomsel karena menyediakan tarif  hemat sesama Telkomsel

5.    Tarif jangkauan luar negeri bisa menggunakan kode telepon murah

   

1-5

1-5

1-5

1-5

1-5
   

Interval

Interval

Interval

Interval

Interval

   

X1.1

X1.2

X1.3

X1.4

X1.5

1.   Keputusan Pelanggan
   

   

1.      Saya memilih kartu prabayar telkomsel karena jaringan mudah

2.      Saya tetap akan memilih kartu Prabayar Telkomsel walaupun tarif mahal,

3.      Saya memilih  Kartu Prabayar Telkomsel sudah lama memakai Kartu Prabayar Telkomsel

4.      Saya suka memakai kartu prabayar telkomsel karena sinyalnya bagus.

5.       Selain tarif telkomsel menyediakan layanan dan bonus-bonus dalam bentuk undian telkomsel poin
   

1-5

1-5

1-5

1-5

1-5
   

Interval

Interval

Interval

Interval

Interval
   

Y1

Y2

Y3

Y4

Y5

3.8  Pengujian Hipotesis (Uji t)                                          

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi hubungan antara variable X dan Y, apakah variabel X Besaran tarif telepon benar-benar berpengaruh terhadap variabel Y ( Keputusan Pelanggan).

Hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini adalah :

H1 :     Semakin kuat keinginan untuk mempertahankan Besaran Tarif Telepon, maka semakin besar keinginan pelanggan  memilih Kartu Prabayar Telkomsel

Ho :     Variabel Besaran Tarif Telepon mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat ( Keputusan Pelanggan ).

Ha :     Variabel Besaran Tarif Telepon tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (Keputusan Pelanggan).

Dasar pengambilan keputusan Imam Ghozali, (2005:84) adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu :

a.    Apabila angka probabilitas signifikani > 0.05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

b.    Apabila angka probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Dilihat dari sumbernya penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu :

1)      Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan, seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner  Umar Husen, (2000:130).  Data primer dalam penelitian ini diperoleh langsung dari hasil wawancara dan penyebaran daftar pertanyaan kepada masyarakat yang setia pada kartu  Prabayar  Telkomsel. Data primer berupa pendapat / tanggapan mengenai Keputusan Pelanggan dari para masyarakat dan Karyawan Telkomsel di  Kabupaten Pidie .

2)      Data Sekunder

Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain, data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut (Umar Husen, 2000:130).

Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari kantor Telkomsel di Kabupaten Pidie dan berbagai sumber bacaan, diantaranya adalah buku, jurnal, koran dan media informasi lainnya. Data sekunder berupa kutipan yang diambil dari sumber-sumber yang diperoleh.

3.8.1 Uji Reliabilitas dan Validitas Data Kuesioner

1) Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jieseorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu variable dikatakan reliabel jika memberikan nilai α > 0,60 (Imam Ghozali, 2005: 42)



Dimana :

α = koefisien reliabilitas

r = korelasi antar item

k = jumlah item

2)  Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan sah jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (untuk setiap butir dapat dilihat pada kolom corrected item-total correlations dengan  r  table untuk  degree of freedom (df) = n-k, dalam hal ini n adalah jumlah sampel dan  k  adalah  jumlah  item. Jika  r  hitung  >  r tabel, maka pertanyaan tersebut dikatakan valid (Imam Ghozali, 2005: 45 ).

            

Dimana :

 = koefisien korelasi (r-hitung)

  = Skor variabel independen

= Skor variabel dependen

= Hasil kali skor butir dengan skor total

n      = Jumlah Responden

3.8.2 Uji Asumsi Klasik

1)    Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variable bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol (Imam Ghozali 2005: 91).

Multikolonieritas dideteksi dengan menggunakan nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Tolerance mengukur  variabilitas variable bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF=1/tolerance) dan  menunjukkan  adanya kolinearitas yang tinggi.  Nilai cutoff  yang  umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF dibawah 10 (Imam Ghozali Ghozali, 2005: 92).

2)    Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari suatu residual pengamatan ke pengamatan yang lain. Salah satu cara untuk mendekati heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

Jika ada titik-titik membentuk pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar, kemudian menyempit maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Imam Ghozali  2005: 105).

3)  Uji Normalitas

Bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah berdistribusi normal atau mendekati normal. Suatu data dikatakan mengikuti distribusi normal dilihat dari penyebaran data pada sumbu diagonal dari grafik (Imam Ghozali 2005:110).

Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :

a.    Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi normalitas.

b.    Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis

diagonal, maka model regresi tidak memenuhi normalitas.

3.8.3  Uji Kelayakan Model

1)    Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Dalam penelitian ini, uji F digunakan untuk mengetahui tingkat siginifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (Imam Ghozali, 2005:84). Dalam penelitian ini, hipotesis yang digunakan adalah :

Ho :     Variabel-variabel bebas yaitu Besaran Tarif Telepon mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya yaitu Keputusan Pelanggan.

Ha :     Variabel-variabel bebas yaitu Besaran Tarif Telepon tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya yaitu Keputusan Pelanggan.

Dasar pengambilan keputusannya (Imam Ghozali 2005:84) adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu:

a.    Apabila probabilitas signifikansi > 0.05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya variabel bebas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama terhadap variabel terkait.

b.    Apabila probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama terhadap variabel terkait.

2. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketepatan paling baik dalam analisa regresi dimana hal yang ditunjukan oleh besarnya koefisien determinasi (R2) antara 0 (nol) dan I (satu). Koefsien determinasi (R2) nol variabel independen sama sekali tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Apabila koefisien determinasi semakin mendekati satu, maka dapat dikatakan bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen, Selain itu koefisien determinasi (R2) dipergunakan untuk mengetahui prosentase perubahan variabel tidak bebas (Y) yang disebabkan oleh variabel bebas (X).