Home » » Contoh Proposal Meningkatkan Prestasi Belajar

Contoh Proposal Meningkatkan Prestasi Belajar

Contoh Proposal Meningkatkan Prestasi Belajar 


Proposal

“ Penerapan Model NHT Dengan Media Roda Impian Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Sistem Periodik Unsur Kelas X SMAN 4 Banda Aceh ”

Disusun oleh :
Emi Fitrya Husna (1106103040013)
Kimia Reguler A


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN KIMIA
DARUSSALAM – BANDA ACEH
2013

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga proposal saya yang berjudul :
“ Penerapan Model NHT Dengan Media Roda Impian Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Sistem Periodik Unsur Kelas X SMAN 4 Banda Aceh ” dapat terselesaikan. Penyusunan proposal saya ini dapat terselesaikan karena adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Dosen Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Kimia Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
2.      Teman-teman sekalian yang senantiasa memberikan motivasi kepada saya, sehingga saya mampu menyelesaikan proposal ini.

Saya menyadari bahwa dalam tugas proposal ini banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karenanya saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca untuk penyusunan selanjutnya.



Banda Aceh,  Desember 2013




Emi Fitrya Husna


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................            2
DAFTAR ISI.....................................................................................................            3

BAB I PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang Masalah.........................................................................           5
1.2     Rumusan Masalah..................................................................................            7
1.3     Tujuan Penelitian....................................................................................          7
1.4     Manfaat Penelitian................................................................................            7

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1  Kajian/Landasan Teori.........................................................................              9
2.1.1    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT............................               9
2.1.2    Media Roda Impian.................................................................             12
2.1.3    Prestasi Belajar.........................................................................             13
2.1.4    Tinjauan Materi Sistem Periodik Unsur..................................              15
2.2  Hasil Penelitian Yang Relevan.............................................................             20
2.3  Kerangka Berfikir.................................................................................            26
2.4  Hipotesis Tindakan...............................................................................            27

BAB III METODOLOGI PENDIDIKAN
3.1  Tempat, Waktu, Objek dan Subjek Penelitian.....................................           23
3.1.1    Tempat Penelitian....................................................................           23
3.1.2    Waktu Penelitian.....................................................................            23
3.1.3    Objek Penelitian......................................................................            23
3.1.4    Subjek Penelitian.....................................................................           23

     3.2  Prosedur Penelitian..............................................................................           27
            3.2.1    Refleksi Awal.........................................................................                        27
            3.2.2    Pelaksanaan Siklus I...............................................................            30
            3.2.3    Pelaksanaan Siklus II.............................................................             32
     3.3  Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian........................             34
            3.3.1    Teknik Pengumpulan Data....................................................              35
            3.3.2    Instrumen Penelitian.............................................................              36

     3.4  Teknis Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan...............................              36
            3.4.1    Teknis Analisis Data.............................................................              36
            3.4.2    Kriteria Keberhasilan............................................................              39

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................              40
LAMPIRAN.................................................................................................              42         











BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Untuk mencapainya, pembaharuan pendidikan di Indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang adaptif terhadap perubahan Zaman. Gairah belajar selain disebabkan oleh ketidaktepatan metodelogis juga berakar pada paradigma pendidikan konvensional yang selalu menggunakan metode pengajaran klasifikasi dan ceramah tanpa pernah diselingi berbagai metode yang menantang untuk berusaha. Sehingga hal ini akan mempengaruhi kualitas berpikir dan pemahaman konsep terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga menyebabkan menurunnya prestasi belajar. Mata pelajaran kimia merupakan pelajaran yang wajib bagi siswa Sekolah Menengah Atas. Bagi sebagian besar siswa, mata pelajaran kimia dirasa sulit sehingga menyebabkan prestasi belajar rendah atau dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Dalam mata pelajaran kimia SMA kelas X terdapat materi pokok sistem periodik unsur yang berisi pemahaman konsep. Berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan guru kimia di SMAN 4 Banda Aceh yang merupakan salah satu sekolah menengah atas yang terdapat di Banda Aceh bahwa pemahaman siswa untuk materi sistem periodik unsur di SMAN 4 Banda Aceh masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian nilai ulangan harian materi sistem periodik unsur tahun pelajaran  2012/2013, lebih dari 40 % siswa memperoleh nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan yaitu 70 untuk mata pelajaran kimia.
Dari data tersebut dapat diidentifikasi kemungkinan permasalahan yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah yaitu penggunaan metode ceramah dalam menyampaikan materi. Metode ceramah identik dengan apa yang dikenal dengan Instructor-Centered Method yang artinya guru merupakan satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap penyampaian materi kepada siswa. Sehingga dalam metode ceramah pembelajaran hanya terpusat pada guru (teacher centered) akibatnya siswa menjadi pasif. Selain itu, pada proses pembelajaran di SMAN 4 Banda Aceh masih kurang dalam penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam mencapai tujuan pembelajaran sehingga siswa terkadang merasa bosan. Faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan prestasi siswa rendah yaitu pembelajarannya masih bersifat individual. Akibatnya siswa tidak dapat bertukar pikiran dengan siswa lain. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul “ Penerapan Model NHT Dengan Media Roda Impian Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Sistem Periodik Unsur Kelas X SMAN 4 Banda Aceh ”
Dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa ini, hasil belajar akan lebih bermakna. Siswa juga dapat mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki dengan lebih maksimal. Dengan metode ini diharapkan siswa dapat menemukan sendiri pemahamannya, karena prinsip belajar aktif, efektif, kreatif, menyenangkan akan mempermudah daya  intelegensi dan emosional dalam menerima segala bentuk pengetahuan yang disertai media roda impian sebagai pengoptimal hasil pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif menurut pendapat Lie dalam Made Weda (2009: 189), dapat dikembangkan sebuah asumsi bahwa proses belajar akan lebih bermakna jika peserta didik lebih mendukung dan mengajari walaupun dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat belajar dari dua sumber belajar utama yaitu pengajar dan teman belajar yang lain.
1.2       Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan media roda impian dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi Sistem Periodik Unsur kelas X SMAN 4 Banda Aceh ?
1.3              Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah :
Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada materi sistem periodik unsur kelas X SMAN 4 Banda Aceh dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan media roda impian.
1.4       Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini bermanfaat :
a.         Siswa
Untuk meningkatkan prestasi belajar pada meteri sistem periodik unsur dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan media roda impian.
b.         Guru
Untuk menerapkan strategi pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Heads Together, guna meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMAN 4 Banda Aceh dengan media roda impan.
c.         Peneliti
Untuk menguji manfaat model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan media roda impian, terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas X SMAN 4 Banda Aceh.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1       Kajian/ Landasan Teori
2.1.1    Model pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
            Model pembelajaran tipe NHT adalah model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran ( Johar DKK: 2006). Para siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil dengan pemberian nomor untuk masing-masing siswa diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Model ini diberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT, antara lain :
1.      Meningkatkan hasil belajar akademik yang struktural.
2.      Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik serta adanya keragaman.
3.      Menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. (Johar DKK: 2006).
            Johar DKK (2006) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran tipe NHT dilakukan dengan tiga langkah antara lain :
1.      Pembentukan kelompok.
2.      Diskusi masalah.
3.      Tukar jawaban antar kelompok.
            Kemudian langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah antara lain :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Jadi, dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Metode NHT ini didalamnya juga terdapat diskusi kelompok yang dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi sehingga dapat tercipta kerjasama yang baik diantara siswa yang satu dengan yang lainnya. Metode NHT ini memiliki kelebihan antara lain dapat tercipta suasana koordinasi dimana siswa akan saling berkomunikasi, saling mendengarkan, saling berbagi, saling memberi dan menerima, yang mana keadaan tersebut akan memupuk jiwa, sikap dan perilaku yang pada akhirnya mampu membawa dampak positif.
2.1.2    Media Roda Impian
            Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan hadirnya media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu (Djamarah :1995). Menurut pendapat Djamarah (1995) Penggunaan media dalam pembelajaran bukan semata-mata alat hibuan, dalam arti hanya digunakan sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa, tetapi media pembelajaran dalam proses belajar mengajar merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru.
Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna makna terkandung didalamnya dapat dipahami degan baik oleh siswa.
Jadi dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengoptimalkan proses pembelajaran agar semua siswa dapat menerima penyampaian materi dengan baik maka digunakan media pembelajaran sebagai penunjang dan pelengkap proses pembelajaran agar semua siswa aktif dan suasana kelas menjadi kondusif. Pada penelitian ini digunakan media roda impian. Roda impian merupakan permainan berupa suatu roda bernomor yang dimainkan dengan cara diputar. Dalam roda impian siswa harus memutar roda yang berisi nomor sesuai jumlah kelompok dan siswa harus menjawab soal sesuai nomor kelompok masing-masing yang muncul pada saat diputar tadi sehingga siswa dituntut aktif dan siap untuk menjawab pertanyaan. Penggunaan media roda impian ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran sehingga siswa lebih fokus pada materi pelajaran dan suasana kelas menjadi kondusif. Dengan demikian diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.
2.1.3    Prestasi Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan. Perubahan ini tidak hanya mengenai sejumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, penyeusuaian diri dan mengenai segala aspek organisasi atau pribadi seseorang. Menurut Munandar (1985 : 25) Mengatakan bahwa : “ Belajar adalah rangkaian kegiatan atau aktifiatas yang dilakukan oleh seseorang secara sadar dan dengan sebab aktivitas tersebut sehingga dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan pengetahuan dan kemahiran atau dalam bahasa lain seseorang sebagai hasil dari belajar mendapatkan skill tertentu dalam aktifitasnya sehari-hari”. Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Belajar itu akan berjalan dengan baik apabila dapat diasumsikan pada diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu dapat diamati dan berlaku dalam waktu yang relatif lama.
Perubahan tingkah laku yang berlaku dalam waktu yang relatif lama itu dan disertai dengan usaha orang tersebut, sehingga dari tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakannya. Nana Syaodih (2009) Mengatakan bahwa kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jens prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Berdasarkan kutipan diatas jelas bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dalam serangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan tingkah laku, kemandirian dalam dirinya. Dalam hubungannya dengan belajar maka prestasi belajar siswa adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami proses belajar mengajar. Untuk mengatahui berhasil atau tidaknya seseorang dalam materi sistem periodik unsur dilihat dari prestasi belajarnya. Dengan proses belajar yang baik maka siswa akan mudah memahami materi yang diajarjan dan prestasi belajarnya pun akan meningkat.
2.1.4    Tinjauan Materi Sistem Periodik Unsur
Materi sistem periodik adalah memperlihatkan pengelompokkan atau susunan unsur-unsur dengan tujuan mempermudah dalam mempelajari sifat-sifat berbagai unsur yang berubah secara periodik.
Perkembangan Tabel periodik
Pada abad kesembilan belas, ketika para kimiawan masih samar-samar dalam memahami gagasan tentang atom dan molekul, dan belum mengetahui adanya elektron dan proton, mereka menyusun tabel periodik dengan menggunakan pengetahuannya tentang massa atom. Penyusunan unsur-unsur menurut massa atomnya dalam tabel periodk tampak logis bagi para kimiawan yang berpendapat bahwa perilaku kimia bagaimanapun juga harus berhubungan dengan massa atom. (Chang: 2004)
Pada tahun 1864 kimiawan Inggris John Newlands memperhatikan bahwa jika unsur-unsur yang telah dikenal pada waktu itu disusun menurut massa atom, maka setiap unsur kedelapan memiliki sifat-sifat yang mirip. Newlands menyebutkan hubungan yang istimewa ini sebagai hukum oktaf. Tetapi, “hukum” ini tidak cocok untuk unsur-unsur setelah kalsium, dan karya Newlands tidak diterima oleh masyarakat ilmiah.(Chang: 2004)
Lima tahun kemudian kimiawan Rusia Dmitri Mendeleev dan kimiawan Jerman Lothar Meyer secara terpisah mengusulkan penyusunan tabulasi unsur-unsur lebih luas berdasarkan keteraturannya, sifat yang berulang secara periodik. Pengolongan yang disusun oleh mendeleev lebih baik dibandingkan yang disusun oleh Newlands karena disebabkan dua hal. Pertama, ia menggolongkan unsur-unsur yang lebih tepat menurut sifat-sifatnya. Selain itu yang sama pentingnya yaitu adanya kemungkinan meramal sifat-sifat beberapa unsur yang belum ditemukan. Dengan menggunakan data dari percobaan hamburan sinar α Rutherford dapat memperkirakan jumlah muatan positif dalam inti untuk beberapa unsur, tetapi sampai tahun 1913 tidak terdapat cara umum untuk menentukan nomor atom. Pada tahun yang sama, seorang ilmuwan Inggris, Henry Moseley menemukan keterkaitan antara nomor dan frekuensi sinar-x yang dihasilkan dari penembakan unsur yang sedang dikaji dengan elektron berenergi tinggi. Dengan sedikit pengecualian, Moseley menemukan bahwa kenaikan nomor atom sama dengan urutan kenaikan massa atom.(Chang: 2004)
Tabel periodik modern biasanya menampilkan nomor atom bersama dengan lambang unsurnya. Konfigurasi elektron untuk membantu menjelaskan munculnya sifat-sifat fisika dan kimia. Kegunaan dan pentingnya tabel perodik terletak pada fakta bahwa kita dapat menggunakan pemahaman tentang sifat-sifat umum dan kecenderungan dalam golongan atau periode untuk meramalkan sifat-sifat unsur apa pun dengan cukup tepat, walaupun unsur itu tidak kita kenal dengan baik. (Chang: 2004)
Penggolongan Periodik Unsur-unsur
            Menurut jenis sub-kulit yang terisi, unsur-unsur dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu unsur utama, gas mulia, unsur transisi (atau logam transisi), lantanida, dan aktinida. Unsur-unsur utama adalah unsur-unsur dalam golongan 1A hingga 7A, yang semuanya memiliki subkulit s atau p dengan bilangan kuantum utama tertinggi yang belum terisi penuh. Dengan pengecualian pada helium, seluruh gas mulia unsur-unsur golongan 8A mempunyai subkulit p yang terisi penuh. Logam transisi adalah unsur-unsur dalam golongan 1B dan 3B hingga 8B, yang mempunyai subkulit d yang tidak terisi penuh atau mudah menghasilkan kation dengan subkulit d yang tidak terisi penuh. Elaktron terluar suatu atom, yang terlibat dalam ikatan kimia sering disebut elektron valensi (Valence electron). (Chang: 2004)
Hubungan Konfigurasi Elektron dengan Sistem Periodik
Konfigurasi elektron sangat erat hubungannya dengan system periodik unsur. Seperti telah kalian ketahui bahwa sifat-sifat unsur sangat tergantung pada jumlah elektron valensinya. Jika jumlah elektron luar yang mengisi orbital dalam subkulit sama dengan bilangan kuantum utama (n), maka atom unsur tersebut pasti terletak pada golongan yang sama (selain yang berbentuk ion). Sedangkan nilai n (bilangan kuantum utama) yang terbesar menunjuk nomor periode unsur tersebut dalam sistem periodik unsur (Chang :2004).
            Sifat-sifat keperiodikan
Sistem periodik unsur disusun dengan memperhatikan sifat-sifat unsur, yang meliputi jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan unsur-unsur dalam sistem periodik unsur.
1.      Jari-jari Atom
Jari-jari atom merupakan jarak dari pusat atom (inti atom) sampai kulit elektron terluar yang ditempati elektron. Panjang pendeknya jari-jari atom ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
a.       Jumlah kulit elektron
Makin banyak jumlah kulit yang dimiliki oleh suatu atom, maka jari-jari atomnya makin panjang.
b.      Muatan inti atom
Bila jumlah kulit dari dua atom sama banyak, maka yang berpengaruh terhadap panjangnya jari-jari atom adalah muatan inti atom.
2.      Energi Ionisasi
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan untuk mengeluarkan elektron valensi dari suatu atom atau ion dalam wujud gas. Nilai energi ionisasi bergantung pada jarak elektron valensi terhadap inti atom. Makin jauh jarak elektron valensi terhadap inti atom, makin lemah tarikan inti terhadap elektron sehingga energi ionisasi makin kecil. Pada periode yang sama, dari kiri ke kanan jari-jari atom relatif tetap, tetapi jumlah proton bertambah. Hal ini menyebabkan tarikan inti terhadap elektron valensi makin besar, sehingga energi ionisasi makin besar. Untuk unsur-unsur satu golongan, dari atas ke bawah, jari-jari atom bertambah secara tajam dengan bertambahnya kulit elektron (orbital). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa secara umum energi ionisasi menurun dengan bertambahnya nomor atom (Chang:2004).
3.      Afinitas Elektron
Afinitas elektron adalah besarnya energi yang dibebaskan satu atom netral dalam wujud gas pada waktu menerima satu elektron sehingga terbentuk ion negatif. Energi ionisasi selalu ditekankan pada pembentukan ion positif. Afinitas elektron ditekankan pada ion negatif, dan keduanya banyak dipakai untuk unsur-unsur pada golongan 6 dan 7 pada tabel periodik. Afinitas elektron merupakan salah satu sifat keperiodikan unsur. Afinitas elektron adalah energi yang dilepaskan oleh suatu atom (dalam wujud gas) ketika menangkap satu elektron membentuk ion negatif. Karena energi dilepas, maka harga afinitas elektron diberi tanda minus (Brady: 1999).
4.      Keelektronegatifan
Keelektronegatifan adalah kemampuan atau kecenderungan suatu atom untuk menangkap atau menarik elektron dari atom lain. Misalnya, fluorin memiliki kecenderungan menarik elektron lebih kuat daripada hidrogen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keelektronegatifan fluorin lebih besar daripada hidrogen. Konsep keelektronegatifan ini pertama kali diajukan oleh Linus Pauling (1901 – 1994) pada tahun 1932. Unsur-unsur yang segolongan, keelektronegatifan makin ke bawah makin kecil sebab gaya tarik inti makin lemah. Sedangkan unsur-unsur yang seperiode, keelektronegatifan makin ke kanan makin besar. Akan tetapi perlu diingat bahwa golongan VIIIA tidak mempunyai keelektronegatifan. Hal ini karena sudah memiliki 8 elektron di kulit terluar. Jadi keelektronegatifan terbesar berada pada golongan VIIA. (Chang:2004).
2.2       Hasil Penelitian Yang Relevan
Banyak penelitian telah dilakukan mengenai model pembelajaran Koopertif Tipe Numbered Haed Together (NHT) dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa. Adapun penelitian yang telah dilakukan diantaranya :
Ratih Purwaningsih Dkk (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Studi Komparasi Metode Pembelajaran Koopertif Tipe Numbered Haed Together (NHT) Dan Think Pair Share (TPS) Dengan Media Roda Impian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Sistem Periodik Unsur Kelas X Semester 1  SMAN 1 Purwontaro Tahun Pelajaran 2012/2013” dalam jurnal penelitian pendidikan kimia (JPK), Vol.2 No.2 Tahun 2013, menyatakan bahwa Efektivitas penggunaan metode NHT dengan media roda impian dapat meningkatkan prestasi belajar siswa materi sistem periodik unsur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, sampel terdiri dari 3 kelas, data prestasi kognitif menggunakan tes, prestasi afektif menggunakan angket, uji hipotesis menggunakan uji t-pihak kanan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan penggunaan metode NHT dengan media roda impian efektif meningkatkan prestasi belajar materi sistem periodik  unsur.
            Abdur Rahman DKK (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN PENGUASAAN KONSEP MATEMATIKA” Dalam jurnal PTK DBE3,  Vol Khusus No. 1 : Menyatakan bahwa Menggunakan Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif, penelitian menunjukkan bahwa Model NHT mampu meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep matematika siswa memiliki beberapa sifat sebagai berikut: (1) pertama kali, model NHT harus dijelaskan secara jelas terlebih dahulu kepada siswa, lisan maupun tertulis, (2) pengelompokan siswa hendaknya dibuat dinamis, (3) pemberian bimbingan kepada siswa hendaknya terdistribusi merata, (4) penyaji setiap kelompok hendaknya ditentukan secara acak dengan menggunakan amplop tertutup. 
Data yang diperoleh adalah sebagai berikut  :
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3



Siklus 4

Dari Data diatas terlihat bahwa pembelajaran telah berhasil meningkatkan penguasaan konsep siswa. Dengan demikian, tindak pembelajaran model NHT yang telah dimodifikasi ini mampu meningkatkan keaktifan siswa serta penguasaan konsep matematikanya.
            Supiandi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “  PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBASIS SAVI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA” dalam jurnal metode pembelajaran Vol.1 No.1 : Menyatakan bahwa  adanya peningkatan hasil belajar Kimia siswa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbasis SAVI.
Data diambil dengan menggunakan tes dan lembar observasi. Rerata hasil belajar Kimia siswa pada pokok bahasan Laju Reaksi sebelum diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbasis SAVI 58,49 (ketuntasan klasikal 55,81%). Nilai rata-rata siklus I, II dan III berturut-turut adalah 64,84(ketuntasan klasikal 69,77%), 68,93 (ketuntasan klasikal 79,07%), dan 74,79 (ketuntasan klasikal 86,05%). Hasil belajar yang dicapai dari siklus ke siklus menunjukkan adanya peningkatan.
Aniq Qurniawati DKK (2013) dalam penelitian nya yang berjudul “EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) DENGAN MEDIA KARTU PINTAR DAN KARTU SOAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK HIDROKARBON KELAS X SEMESTER GENAP SMA NEGERI 8 SURAKARTA  TAHUN PELAJARAN 2012/2013” Dalam jurnal PTK Vol.2 No.3 Tahun 2013 Menyatakan bahwa  metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan media kartu pintar dan kartu soal efektif dapat meningkatkan prestasi belajar Hidrokarbon siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta tahun pelajarn 2012/2013.
 Hal ini terlihat dari rata-rata selisih, yaitu kenaikan prestasi belajar aspek kognitif kelas eksperimen (59,5000) lebih tinggi dari rata-rata selisih nilai postest dan pretest aspek kognitif kelas kontrol (52,6786) serta rata-rata nilai afektif untuk kelas eksperimen (119,5000) lebih tinggi daripada rata-rata nilai afektif kelas kontrol (109,6786). Selain itu, berdasarkan hasil uji t-pihak kanan untuk prestasi belajar kognitif dan afektif diperoleh thitung lebih besar daripada ttabel. Untuk prestasi kognitif thitung (4,3229) lebih besar daripada ttabel (1,6740) dan untuk prestasi afektif thitung (2,0636) lebih besar daripada ttable (1,6740).

Sariyasa DKK (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBANTUAN SENAM OTAK TERHADAP KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA” dalam e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha : Menyatakan bahwa 1) keaktifan belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan senam otak lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, 2) prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan senam otak lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, 3) secara simultan, keaktifan dan prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan senam otak lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
            Berdasarkan hasil uji pakar, lembar observasi dan tes prestasi belajar matematika seluruh itemnya relevan dan validitasnya berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan berdasarkan uji coba lapangan, validitas kelima indikator keaktifan belajar siswa tergolong valid dan reliabilitasnya sebesar 0,78 sehingga tergolong pada kategori tinggi. Untuk tes prestasi belajar matematika, jumlah butir yang diujicobakan sebanyak 56 butir soal kepada 56 orang siswa. Berdasarkan uji coba kelapangan maka validitas butir dari 56 butir soal, 41 soal valid dan 15 soal gugur, sedangkan angka reliabilitasnya sebesar 0,86 sehingga berada pada kategori sangat tinggi. Dalam uji daya beda, 39 butir soal valid dan 17  butir soal gugur, sedangkan uji taraf kesukaran tes menghasilkan 37 butir soal valid dan 19 butir soal drop.
Berdasarkan uji pakar dan uji lapangan, maka butir soal tes prestasi belajar yang valid adalah sebanyak 30 soal. Hasil penelitian dalam penelitian ini dianalisis secara bertahap, yaitu: deskripsi data, uji prasyarat, dan uji hipotesis. Uji prasyarat yang dilakukan adalah uji normalitas sebaran data, uji homogenitas varians, dan uji antar variabel terikat.
2.3       Kerangka Berfikir
            Upaya yang diperlukan untuk mendorong siswa aktif adalah mendorong gairah belajar siswa, yang diselingi oleh berbagai metode yang menantang untuk berusaha. Sehingga hal ini akan mempengaruhi kualitas berfikir dan pemahaman konsep terhadap materi yang diajarka yaitu sistem periodik unsur. Selama ini keaktifan siswa belum berkembang dengan baik selama proses pembelajaran yang berdampak pada prestasi belajar siswa yang rendah. Oleh karena itu, penerapan model Numbered Head Together (NHT) lebih mengutamakan adanya kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Sehingga akan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
            Berdasarkan paparan diatas, maka kerangka penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat pada gambar 2.3.1
2.4       Hipotesis Tindakan
            Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperetif tipe NHT dengan media roda impian dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi sistem periodik unsur kelas x SMAN 4 Banda Aceh.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1       Tempat, Waktu, Objek dan Subjek Penelitian
3.1.1    Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Banda Aceh yang beralamat dijalan Panglima Nyak Makam No. 19 Kota Baru Lampineung Banda Aceh. SMA Negeri 4 Banda Aceh memiliki gedung yang layak dengan memiliki fasilitas seperti musalla, lapangan voli, lapangan basket, kantin, pustaka, laboratorium kimia, laboratorium fisika, biologi dan bahasa serta ruang serba guna (aula). SMA Negeri 4 Banda Aceh memiliki 4 orang guru kimia dan jumlah guru seluruhnya adalah 60 orang.
3.1.2    Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sejak tanggal 22 November sampai 6 Desember 2013.
3.1.3    Objek Penelitian
Penelitian ini meneliti tentang peningkatan prestasi belajar (kognitif) siswa mata pelajaran kimia tentang materi sistem periodik unsur.
3.1.4    Subjek Penelitian
            Sebagai subjek dalam  penelitian ini adalah siswa kelas X-2 SMA Negeri 4 Banda Aceh yang berjumlah 25 Orang siswa, terdiri dari 15 orang siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki. Dipilih Kelas X-2 sebagai subjek penelitian adalah karena berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia di SMA Negeri 4 Banda Aceh bahwa pemahaman siswa untuk materi sistem periodik unsur dikelas X-2 masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian nilai ulangan harian materi sistem periodik unsur tahun pelajaran  2012/2013, lebih dari 40 % siswa memperoleh nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)  yang ditetapkan yaitu 70 untuk mata pelajaran kimia.
3.2       Prosedur Penelitian
3.2.1    Refleksi Awal
Proses pembelajaran di SMA Negeri 4 Banda Aceh masih kurang dalam penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam mencapai tujuan pembelajaran sehingga siswa terkadang merasa bosan. Faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan prestasi siswa rendah yaitu pembelajarannya masih bersifat individual dan metode yang digunakan guru adalah metode ceramah. Dilihat dari karakteristik materi sistem periodik unsur berisi hafalan yang memerlukan pemahaman konsep pada siswa. Kemampuan siswa dalam memahami materi ini tentu saja berbeda-beda. Ada siswa yang mudah memahami materi dan ada siswa yang sulit memahami materi. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya yang dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dengan baik. Yaitu dibutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dan penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang untuk mempermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk dapat mengoptimalkan prestasi belajar siswa agar mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) maka diperlukan perubahan strategi dalam pembelajaran yaitu dari yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered). Metode dan media pembelajaran yang digunakan juga harus kreatif agar siswa tidak mudah lupa dengan apa yang telah dipelajari. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam memahami konsep materi pelajaran. Sehingga diharapkan dalam pembelajaran siswa menjadi aktif dan prestasi belajar siswa akan meningkat.
Metode Numbered Heads Together (NHT) dipilih untuk meningkatkan prestasi belajar siswa karena metode ini melibatkan siswa untuk aktif dan bertanggung jawab dalam memahami materi pelajaran baik secara kelompok maupun individual. Selain itu dalam metode NHT siswa dituntut untuk kreatif dalam berfikir sehingga materi yang diperoleh tidak hanya terbatas dari penyampaian guru. Metode NHT ini didalamnya juga terdapat diskusi kelompok yang dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi sehingga dapat tercipta kerjasama yang baik diantara siswa yang satu dengan yang lainnya. untuk mengoptimalkan proses pembelajaran agar semua siswa dapat menerima penyampaian materi dengan baik maka digunakan media pembelajaran sebagai penunjang dan pelengkap proses pembelajaran agar semua siswa aktif dan suasana kelas menjadi kondusif. Pada penelitian ini juga digunakan media roda impian. Roda impian merupakan permainan berupa suatu roda bernomor yang dimainkan dengan cara diputar. Dalam roda impian siswa harus memutar roda yang berisi nomor sesuai jumlah kelompok dan siswa harus menjawab soal sesuai nomor kelompok masing-masing yang muncul pada saat diputar tadi sehingga siswa dituntut aktif dan siap untuk menjawab pertanyaan. Penggunaan media roda impian ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran sehingga siswa lebih fokus pada materi pelajaran dan suasana kelas menjadi kondusif. Dengan demikian diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.
Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas, terdiri dari dua siklus, dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model spiral yang berbentuk siklus, dan tidak menutup kemungkinan ditambahnya siklus berikutnya untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Adapun proses dasar tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.






3.2.2    Pelaksanaan Siklus I
            Penelitian dilakukan dengan 1 siklus untuk melihat peningkatan prestasi belajar siswa X-2 pada materi sistem periodik unsur melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Tetapi apabila sekiranya siklus 1 tidak berhasil dengan nilai masih dibawah KKM maka akan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Rancangan penelitian siklus 1 dilakukan dengan 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi dan refleksi.
1.      Tahap Perencanaan
Rincian kegiatan pada tahap perencanaan siklus 1 adalah sebagai berikut :
a.       Menyusun jadwal penelitian
b.      Menganalisis KI/KD yang akan dicapai
c.       Menyiapkan silabus dan RPP
d.      Merancang skenario NHT dalam RPP
e.       Menyiapkan LKS
f.       Menyiapkan lembar observasi (Catatan harian)
g.      Membentuk kelompok heterogen
h.      Menyiapkan Instrumen berupa soal tes akhir siklus 1 dan jawaban tes beserta penilaiannya
2.      Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1.      Guru melakukan proses belajar mengajar dengan memberikan apersepsi sesuai materi pembelajaran.
2.      Siswa mendengarkan aturan-aturan dalam pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang disampaikan oleh guru.
3.      Guru mengatur tempat duduk siswa dan membagi kelompok heterogen.
4.      Siswa diberikan nomor oleh guru dan LKS.
5.      Setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
6.      Guru mengawasi siswa yang sedang berdiskusi.
7.      Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk mempresentasikan hasil jawaban dan kelompok yang lain menaggapi.
8.      Untuk mengoptimalkan pemahaman siswa, guru membuat suatu permainan roda impian.
9.      Setiap kelompok memutar roda impian dan sesuai nomor yang keluar akan diberi pertanyaan.
10.  Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
11.  Siswa mendengar penguatan yang disampaikan guru.
Untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran yang sedang berlangsung dilibatkan dua orang guru sebagai observer untuk mengamati jalannya proses belajar mengajar. Selanjutnya sebagai penguatan siswa diberikan sebuah games yaitu menggunakan media roda impian.
3.      Tahap Observasi
Observasi dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru dan observer fokus mengamati proses belajar siswa meliputi kemampuan kognitif secara individual dan kelompok, kendala yang dialami dan hal-hal menarik lainnya selama proses pembelajaran berlangsung.
4.      Tahap Refleksi 
Pada tahap ini melakukan analisis data temuan yang dilakukan pada siklus 1. Hasil analisis dan kajian ini, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai keberhasilan yang dicapai siswa dan kelemahan-kelemahan serta penyebab terjadinya hambatan-hambatan yang muncul saat penelitian berlangsung. Kelemahan yang didapat dicari kemungkinan solusi yang digunakan untuk memperbaiki pada siklus berikutnya.
3.2.3    Pelaksanaan Siklus II
            Pada siklus sebelumnya hasil belajar siswa masih dibawah KKM, sehingga dilakukan tahap pelaksanaan siklus II.
1.      Tahan Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II peneliti melakukan persiapan untuk penerapan siklus ke II. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan melakukan perbaikan-perbaikan dari kelemahan atau kekurangan pada siklus I berdasarkan hasil refleksi dan observasi. Kegiatan yang dilakukan meliputi :
a.       Menyiapkan Silabus dan  RPP
b.      Menyiapkan LKS
c.       Membentuk kelompok heterogen
d.      Menyiapkan lembar observasi (Catatan harian)
e.       Menyiapkan Instrumen berupa soal tes akhir siklus 1 dan jawaban tes beserta penilaiannya
2.      Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan guru melakukan proses belajar mengajar sesuai yang telah direncanakan pada RPP II. Tahap pertama dilakukan adalah
1.      Guru melakukan proses belajar mengajar dengan memberikan apersepsi sesuai materi pembelajaran.
2.      Siswa mendengarkan aturan-aturan dalam pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang disampaikan oleh guru.
3.      Guru mengatur tempat duduk siswa dan membagi kelompok heterogen.
4.      Siswa diberikan nomor oleh guru dan LKS.
5.      Setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
6.      Guru mengawasi siswa yang sedang berdiskusi.
7.      Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk mempresentasikan hasil jawaban dan kelompok yang lain menaggapi.
8.      Untuk mengoptimalkan pemahaman siswa, guru membuat suatu permainan roda impian.
9.      Setiap kelompok memutar roda impian dan sesuai nomor yang keluar akan diberi pertanyaan.
10.  Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
11.  Siswa mendengar penguatan yang disampaikan guru.
Untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran yang sedang berlangsung dilibatkan dua orang guru sebagai observer untuk mengamati jalannya proses belajar mengajar. Selanjutnya sebagai penguatan siswa diberikan sebuah games yaitu menggunakan media roda impian.
3.      Tahap Observasi
Observasi dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru dan observer fokus mengamati proses belajar siswa meliputi kemampuan kognitif secara individual dan kelompok, kendala yang dialami dan hal-hal menarik lainnya selama proses pembelajaran berlangsung.
4.      Tahap Refleksi
Pada tahap ini melakukan analisis data temuan yang dilakukan pada siklus II. Hasil analisis data penelitian diharapkan dapat diperoleh hasil maksimal sesuai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).
3.3       Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
3.3.1    Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan dan disusun melalui teknik pengumpulan data meliputi :
1.      Observasi
Observasi dilakukan oleh dua orang pengamat, yaitu guru di SMA Negeri 4 Banda Aceh. Observasi dilakukan meliputi kemampuan kognitif siswa.
2.      Tes
Tes merupakan sejumlah soal yang diberikan kepada siswa sebagai subjek penelitian. Tes dilakukan adalah tes tertulis yang dilaksanakan di akhir pembelajaran dalam bentuk pilihan ganda, berjumlah sepuluh soal setiap siklus.
3.      Angket
Angket merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Angket yang diberukan kepada siswa berjumlah sepuluh soal dengan memilih alternatif jawaban “ya” atau “tidak” serta menulis alasannya. Angket diberikan pada akhir pembelajaran pada siklus II.
3.3.2        Instrumen Penelitian
Instrumen yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP digunakan sebagai skenario pembelajaran yang akan dilaksananakan dalam proses belajar mengajar.
2.      Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Hade Together (NHT) dikelas, yaitu meliputi aktivitas siswa.
3.       Angket Tanggapan Siswa
Angket tanggapan siswa ini berisi tanggapan siswa mengenai model pembelajaran yang telah digunakan.
4.      Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered head Together (NHT). Bentuknya tes tertulis berupa pilihan ganda sebanyak 10 soal tentang materi sistem periodik unsur.
3.4       Teknis Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan
3.4.1    Teknis Analisis Data
1. Tes Lembar Observasi
Untuk mengetahui aktifitas siswa dianalisis dengan menggunakan persentase. Adapun rumus persentase nya adalah sebagai berikut.
 
Keterangan :
P = Angka persen
f = Frekuensi aktifitas siswa
n = Jumlah aktifitas siswa
Adapun pendeskripsian skor keaktifan selama kegiatan pembelajaran adalah :
(1)   = Kurang baik (0 % - 25%)
(2)    = Cukup baik (25% - 50%)
(3)   = Baik (50% - 75%)
(4)   = Sangat baik (75% - 100%)
2. Tes Angket Siswa
Data mengenai respon siswa diperoleh melalui angket yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan persentase. Dapat disajikan sebagai berikut :
            Persen respon siswa =
Respon siswa dikatakan efektif jika jawaban siswa terhadap pertanyaan positif untuk setiap aspek yang direspom pada setiap komponen pembelajaran memperoleh persentase
3. Tes Hasil Belajar
Data yang diperoleh dari penelitian ini kemudian dianalisis untuk mengetahui perkembangan yang dialami siswa dari segi prestasi belajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Teknis analisis data menggunakan lembar observasi dan soal tes. Ketuntasan hasil belajar digunakan rumus presentase adalah sebagai berikut :
           
Keterangan :
P = Angka persentase
f = Jumlah frekuensi (jumlah siswa yang tuntas)
N = Jumlah keseluruhan sampel (jumlah seluruh siswa)
Nilai yang diperoleh setelah dianalisis dengan rumus diatas, tercapai jika memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk pelajaran kimia kelas X-2 pada materi sistem periodik unsur yaitu sebesar 70. Nilai ketuntasan ini sesuai dengan nilai KKM Sekolah SMA Negeri 4 Banda Aceh, tempat dilakukannya penelitian.
Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar, dilakukan dengan cara membandingkan hasil nilai pada siklus I dengan nilai siklus II. Melalui perhitungan ini akan diketahui peningkatan prestasi belajar siswa melalui penerapa model Kooperatif tipe NHT.
Adapun pengolongan rentang nilai akhir adalah sebagi berikut :

3.4.2    Kriteria Keberhasilan
Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan ketuntasan prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui indikator keberhasilan peningkatan prestasi belajar siswa dengan penerapan model kooperatif tipe Numbered head Together (NHT) materi sistem periodik unsur yakni menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Nilai KKM yang harus dicapai siswa berpedoman pada nilai KKM yang telah dirancang oleh guru bidang studi kimia di SMA Negeri 4 Banda Aceh yaitu 70.
Kriteria untuk mengetahui siswa sudah atau belum mengetahui materi tersebut adalah :
1.      Secara individual, suatu kategori penguasaan materi sistem periodik unsur dikatakan tuntas apabila siswa dapat menjawab dengan benar sekurang-kurangnya 65% dari skor ideal.
2.      Secara klasikal, suatu kategori penguasaan materi sistem periodik unsur dikuasai oleh satu kelas, apabila dalam kelas tersebut sekurang-kurangnya 85% siswa telah tuntas belajar.




DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erangga.
Brady, James. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid 1. Tangerang:
            Binarupa Aksara.
Johnson S. 2005. Soal dan Pembahasan. Bandung: Erlangga.
Purwaningsih, Ratih DKK. 2013. Studi Komparasi Metode Pembelajaran Kooperatif
            Tipe Numbered Head Together (NHT) dan Think Pair Share (TPS) dengan
            Media Roda Impian Terhadap Sistem Periodik Unsur Kelas X Semester 1
            SMAN 1 Purwantoro Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia
            (JPK), Vol.2 No. 2: Universitas Sebelas Maret.
Rahman, Abdur DKK. 2011. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered
            Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Penguasaan
            Konsep Matematika. Jurnal PTK DBE3, Vol Khusus No. 1: USAID.
Rahman, Johar DKK. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Banda Aceh: Universitas
            Syiah Kuala.
Saipul Bahri, Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rhenika Cipta.
Sariyasa DKK. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
            Berbantuan Senam Otak Terhadap Keaktifan dan Prestasi Belajar
            Matematika. e-jurnal Program Pascasarjana, Vol 3: Universitas Pendidikan
            Genesha.
Syaodih S, Nana. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT
            Remaja Rosdakarya.
Supiandi. 2013. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Berbasis SAVI Untuk
            Meningkatkan hasil belajar Kimia. Jurnal Metode Pembelajaran, Vol 1. No 1:
            Universitas Negeri Semarang.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rhenika
            Cipta.
Qurniawati, Annik. 2013. Efektivitas Metode Pembelajaran Tipe Numbered Head
            Together (NHT) dengan Media Kartu Pintar dan Kartu Soal Terhadap
            Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Pokok Hidrokarbon Kelas X Semester
            Genap SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal
            Pendidikan Kimia(JPK), Vol.2 No.3 : Universitas Sebelas Maret.
Lampiran 1
SILABUS
Nama Sekolah                         : SMAN 4 Banda Aceh
Mata Pelajaran                        : Kimia
Kelas/Semester                        : X/1
Standar Kompetensi               : 1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia.
Alokasi Waktu                       : 6 JP
Kompetensi
Dasar
Materi
Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber/
Bahan/alat
1.1  Memahami struktur atom berdasarkan teori atom bohr, sifat-sifat unsur, massa atom relatif, dan sifat periodik unsur dalam tabel periodik serta menyadari keteraturannya, melalui pemahaman konfigurasi elektron.


Perkembangan sistem periodik unsur
·           Mengkaji literatur tentang perkembangan tabel periodik unsur dalam kerja kelompok.
·           Presentasi hasil kajian untuk menyimpulkan dasar pengelompokan unsur-unsur.









·           Mendeskripsikan definisi sistem periodik unsur.
·           Menjelaskan perkembangan sistem periodik unsur.
.

Jenis Tagihan :
Tugas kelompok/ LKS

Bentuk Instrumen
Penilaian sikap
3 JP
Sumber :
·      Harnanto, Ari. 2009. Kimia. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

·      Purba,Michael.2006.Kimia SMA Untuk Kelas XI. Jakarta: Erlangga.


·      Sunarya, Yayan. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Kimia 1. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Bahan/Alat :
Papan tulis, spidol, buku paket, LKS
Sifat Periodik unsur
·           Mengkaji keteraturan jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron dan keelektronegatifan unsur-unsur seperiode berdasarkan data melalui diskusi kelompok.
·           Menghubungkan keteraturan sifat jari-jari atom, energi ionisasi dan keelektronegatifan.

·           Menjelaskan dasar pengelompokkan unsur-unsur dalam sistem periodik.
·           Menentukan sifat-sifat periodik unsur
3 JP


           



Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )


Nama Sekolah                         :  SMA Negeri 4 Banda Aceh
Mata Pelajaran                        :  KIMIA
Kelas / Semester                      :  X / 1
Alokasi Waktu                        6 JP ( 2x Pertemuan )                              
           
I. Standar Kompetensi         :1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia.


II. Kompetensi Dasar           :1.1 Memahami struktur atom berdasarkan teori atom bohr, sifat-sifat unsur, massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik seta menyadari keteraturannya, melalui pemahaman konfigurasi elektron.

III. Indikator

1.      Mendeskripsikan definisi sistem periodik unsur.
2.      Menjelaskan perkembangan sistem periodik unsur.
3.      Menjelaskan dasar pengelompokkan unsur-unsur dalam sistem periodik.
4.      Menjelaskan sifat-sifat periodik unsur.



IV. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu menjelaskan perkembangan dan dasar pengelompokan sistem periodik unsur beserta sifat keperiodikan unsur dalam sistem periodik.

V.   Materi Pembelajaran
      Sistem Periodik Unsur

VI. Metode Pembelajaran
1.      Model                 : Numbered Head Together (NHT)
2.      Pendekatan        : Konstektual, induktif
3.      Metode               : ceramah, diskusi, tanya jawab, latihan, resitasi.
VII. Kegiatan pembelajaran
A.    Pertemuan 1 ( 3 x 45 menit )
           
No
Kegiatan Belajar
Waktu (menit)
Aspek Life Skill yang Dikembangkan
1.
Pendahuluan
§  Siswa menjawab salam dan berdoa bersama. Siswa menjawab  apersepsi yang diajukan guru : “Siapa yang menyusun tabel periodik pertama kali ?”
§  Siswa menanggapi motivasi yang disampaikan oleh guru yaitu “pernahkah kalian mengamati angka angka yang terdapat dalam tabel sistem periodik unsur? adakah hubungannya angka tersebut dengan keteraturan sifai-sifat unsur?”
§  Siswa menyimak guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari.
10’

- Disiplin
- Rasa ingin tahu
- Percaya Diri
2.
Kegiatan Inti
   Eksplorasi
§  Siswa duduk dalam kelompok yang beranggotakan masing-masing 5 orang dibagi secara heterogen.
§  Siswa menyimak pengarahan guru tentang prosedur eksperimen.
§  Setiap siswa mendapatkan nomor masing-masing dalam setiap kelompoknya.
   Elaborasi
§  Setiap kelompok diberikan LKS oleh guru tentang materi sistem periodik unsur, untuk  dikerjakan pada masing- masing kelompok.
§  Siswa dalam kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya dan diawasi oleh guru.
§  Siswa dipanggil oleh guru dengan salah satu nomor siswa yang telah ditentukan, dan melaporkan hasil kerja mereka.
§  Kelompok lain menanggapi atau memberikan pertanyaan hasil kerjanya, dan guru menunjukkan nomor yang berbeda untuk pembahasan selanjutnya.
§  Untuk mengoptimalkan pemahaman siswa, guru membuat suatu permainan roda impian.
§  Setiap kelompok memutar roda impian dan sesuai nomor yang keluar akan diberi pertanyaan.
§  Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
Konfirmasi
§  Siswa mendengarkan penguatan yang disampaikan guru.
110’
-  Kerjasama
-  Kesungguhan
-  Percaya diri
3.
Penutup
§  Guru dan siswa membuat rangkuman.
§  Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang kinerjanya baik.
§  Melakukan refleksi.
§  Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
15’
-  Percaya diri 



B.     Pertemuan 2 ( 3 x 45 menit )

No
Kegiatan Belajar
Waktu (menit)
Aspek Life Skill yang Dikembangkan
1.
Pendahuluan
§  Siswa menjawab salam dan berdoa bersama. Siswa menjawab  apersepsi yang diajukan guru : “Kalian pasti mengenal berbagai macam buah. Ada apel, jeruk, tomat, mangga, anggur, dan lain sebagainya. Bagaimana ciri-ciri buah apel ? Bagaimna ciri-ciri buah jeruk ? Apakah kedunya mempunyai ciri yang sama ?”
§  Siswa menanggapi motivasi yang disampaikan oleh guru yaitu mengadakan tanya jawab tentang sifat-sifat sistem periodik unsur meliputi jari-jari atom dan energi ionisasi, dapat membedakan sifat-sifat sistem periodik unsur yang meliputi jari-jari atom dan energi ionisasi.
§  Siswa menyimak guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari.
10’
- Disipilin
- Rasa Ingin Tahu
- Percaya Diri

2.
Kegiatan inti
Eksplorasi
§  Siswa duduk dalam kelompok yang beranggotakan masing-masing 5 orang dibagi secara heterogen.
§  Siswa menyimak pengarahan guru tentang prosedur eksperimen.
§  Setiap siswa mendapatkan nomor masing-masing dalam setiap kelompoknya.
   Elaborasi
§  Setiap kelompok diberikan LKS oleh guru tentang materi sistem periodik unsur, untuk  dikerjakan pada masing- masing kelompok.
§  Siswa dalam kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya dan diawasi oleh guru.
§  Siswa dipanggil oleh guru dengan salah satu nomor siswa yang telah ditentukan, dan melaporkan hasil kerja mereka.
§  Kelompok lain menanggapi atau memberikan pertanyaan hasil kerjanya, dan guru menunjukkan nomor yang berbeda untuk pembahasan selanjutnya.
§  Untuk mengoptimalkan pemahaman siswa, guru membuat suatu permainan roda impian.
§  Setiap kelompok memutar roda impian dan sesuai nomor yang keluar akan diberi pertanyaan.
§  Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
Konfirmasi
§  Siswa mendengarkan penguatan yang disampaikan guru.
  110’
-  Kerjasama
-  Kesungguhan
-  Percaya diri
3.
Penutup
§  Siswa membuat kesimpulan yang dibimbing oleh guru.
§  Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang kinerjanya baik.
§  Siswa melakukan refleksi untuk pertemuan hari ini.
§  Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
§  Siswa mengumpulkan tugas individu minggu sebelumnya.
     15’
- Percaya Diri


VIII.    Sumber Belajar
            Alat dan bahan       :
            Papan tulis, spidol, buku paket, LKS
     
            Sumber belajar        :

            Purba, Michael.2006.Kimia SMA Untuk Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
`          
     
IX. Penilaian hasil Belajar
1.    Jenis Tagihan     : Tugas kelompok/LKS
2.    Bentuk Tagihan : Pilihan ganda
3.    Contoh tagihan  : Terlampir

A.    PENILAIAN

FORMAT PENILAIAN AFEKTIF DALAM DISKUSI KELOMPOK
NO
NAMA SISWA
ASPEK PENILAIAN
JUMLAH SKOR
NILAI
KET
1
2
3
4
5
1.









2.









3.