Home » » Pengertian, Jenis, Prinsip Hukuman

Pengertian, Jenis, Prinsip Hukuman

Pengertian, Jenis, Prinsip Hukuman 

Pengertian, Jenis, Prinsip Hukuman
Pengertian, Jenis, Prinsip Hukuman  - Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Dengan sangsi hukum yg semakin berat, maka pegawai akan semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indispliner pegawai juga akan semakin berkurang. Sanksi hukum harus diterapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada seluruh pegawai. Sanksi hukum harus bersifat mendidik pegawai untuk mengubah perilakunya yg bertentangan dengan peraturan/ketentuan yg sudah disepakati bersama. Lebih jauh sanksi hukum haruslah wajar untuk setiap tingkatan indisipliner, sehingga dapat menjadi alat motivasi bagi pegawai untuk menjaga dan memelihara kedisiplinan dalam perusahaan.. (Indrakusuma, 2008:14).

Menghukum adalah memberikan atau mengadakan nestapa/penderitaan dengan sengaja kepada bawahan yg menjadi binaan kita dengan maksud supaya penderitaan itu betul-betul dirasainya untuk menuju kearah perbaikan. (Suwarno, 2007:115).

Menurut Rousseau (2006:89) hukuman merupakan akibat yg sewajarnya dari suatu perbuatan, hukuman harus merupakan sesuatu yg natuur menurut hukum-hukum alam, sesuatu akibat logis yg tidak dibuat-buat. Misalnya, anak yg senang memanjat pohon, adalah wajar dan logis apabila suatu ketika ia jatuh. Jatuh ini adalah merupakan suatu hukuman menurut alam sebagai akibat dari perbuatanya dari senang memanjat pohon.

Satu-satunya hukuman yg dapat diterima oleh dunia pekerjaan ialah hukuman yg bersifat memperbaiki, hukuman yg bisa menyadarkan bawahan kepada keinsafan atas kesalahan yg telah diperbuatnya. Dan dengan adanya keinsafan ini, bawahan akan berjanji di dalam hatinya sendiri tidak akan mengulangi kesalahannya kembali. Hukuman yg demikian inilah yg dikehendaki oleh dunia pekerjaan. Hukuman yg bersifat memperbaiki ini disebut juga hukuman yg bernilai didik atau hukuman pedagogis. (Indrakusuma, 2008:18);

Dari beberapa pemikiran pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian sanksi atau hukuman adalah suatu perbuatan atau tindakan yg dilakukan secara sadar dan sengaja oleh atasan terhadap bawahan akibat dari kelalaian perbuatan atau tingkah laku yg tidak sesuai dengan tata nilai yg berlaku dalam lingkingan pekerjaannya.

Prinsip Hukuman

Dalam memberikan suatu hukuman, para pendidik hendaknya berpedoman kepada perinsip"Punitur, Quia Peccatum est" artinya dihukum karena telah bersalah, dan "Punitur, ne Peccatum"artinya dihukum agar tidak lagi berbuat kesalahan, (Surat Edaran Kepala Badan Administrasi Kepegawaian, 1980) Jika kita mengikuti dua macam perinsip tersebut, maka akan kita dapatkan dua macam titik pandang, sebagaimana yg dikemukakan oleh Indrakusuma, (2007:148) yaitu:
  • Titik pandang yg berpendirian bahwa hukuman itu ialah sebagai akibat dari pelanggaran atau kesalahan yg diperbuat. Dengan demikian, pandangan ini mempunyai sudut tinjauan ke belakang, tinjauan kepada masa yg lampau, yaitu pandangan "Punitur, Quia Peccatum est";
  • Titik pandang yg berpendirian bahwa hukuman itu adalah sebagai titik tolak untuk mengadakan perbaikan. Jadi, pandangan ini mempunyai sudut tinjau ke muka atau ke masa yg akan datang, yaitu pandangan "Punitur, ne Peccatur".

Tingkat dan Jenis Hukuman Disiplin Kerja Pegawai 

Tujuan utama pengadaan hukuman disiplin kerja bagi para tenaga kerja yg melanggar norma-norma organisasi adalah memperbaiki dan mendidik para tenaga kerja yg melakukan pelanggaran disiplin. Pada umumnya sebagai pegangan pimpinan meskipun tidak mutlak, tingkat dan jenis sanksi disiplin kerja yg dikemukakan dalam Pasal 6 UU No.43 Tahun 1999 terdiri atas sanksi disiplin berat, sanksi disiplin sedang, sanksi disiplin ringan.

1. Hukuman Disiplin Berat 
Hukuman disiplin berat misalnya :
  • Demosi jabatan yg setingkat lebih rendah dari jabatan atau pekerjaan yg diberikan sebelumnya. 
  • Pembebasan dari jabatan atau pekerjaan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja biasa bagi yg memegang jabatan. 
  • Pemutusan hubungan kerja dengan hormat atas permintaan sendiri tenaga kerja yg bersangkutan. 
  • Pemutusan hubungan kerja tidak dengan hormat sebagai tenaga kerja di organisasi atau perusahaan. 

2. Hukuman Disiplin Sedang 
Hukuman disiplin sedang misalnya :
  • Penundaan pemberian kompensasi yg sebelumnya telah dirancangkan sabagaimana tenaga kerja lainnya. 
  • Penurunan upah atau gaji sebesar satu kali upah atau gaji yg biasanya diberikan harian, mingguan, atau bulanan. 
  • Penundaan program promosi bagi tenaga kerja yg bersangkutan pada jabatan yg lebih tinggi. 

3. Hukuman Disiplin Ringan 
Hukuman disiplin ringan misalnya :
  • Teguran lisan kepada tenaga kerja yg bersangkutan. 
  • Teguran tertulis. 
  • Pernyataan tidak puas secara tertulis. 
Penetapan jenis hukuman disiplin yg akan dijatuhkan kepada pegawai yg melanggar hendaknya dipertimbangkan dengan cermat, teliti, dan seksama bahwa sanksi disiplin yg akan dijatuhkan tersebut setimpal dengan tindakan dan perilaku yg diperbuat. Dengan demikian, sanksi disiplin tersebut dapat diterima dengan rasa keadilan. Kepada pegawai yg pernah diberikan sanksi disiplin dan mengulangi lagi pada kasus yg sama, perlu dijatuhi sanksi disiplin yg lebih berat dengan tetap berpedoman pada kebijakan pemerintah yg berlaku.