Home » » Pengertian Prilaku Konsumen Menurut Para Ahli

Pengertian Prilaku Konsumen Menurut Para Ahli

Pengertian Prilaku Konsumen Menurut Para Ahli

Pengertian Prilaku Konsumen Menurut Para Ahli
Pengertian Prilaku Konsumen - Terdapat beberapa definisi perilaku konsumen yg dikemukakan oleh para pakar. Diantaranya menurut Engel (2005:24), perilaku konsumen ialah tindakan yg langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yg medahului dan mengikuti tindakan tersebut. Lalu, Loudon, dkk (2008:89) lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yg menyaratkan individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mengatur barang dan jasa.

Kotler, dkk (2010:90) mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir baik individu maupun rumah tangga yg membeli produk untuk konsumsi personal.
Perilaku konsumen yg dikemukakan Kotler (2010:10) menerangkan bahwa”Keputusan konsumen dalam pembelian selain dipengaruhi oleh karakteristik konsumen, dapat dipengaruhi oleh rangsangan perusahaan yg mencakup produk, harga, tempat dan promosi. Variabel-variabel di atas saling mempengaruhi proses keputusan pembelian sehingga menghasilkan keputusan pembelian yg didasarkan pada pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu pembelian dan jumlah pembelian.

Model perilaku konsumen yg dikembangkan Assael bahwa proses keputusan konsumen dalam pembelian dilakukan pada tiga faktor meliputi: Pertama, stimuli yg menunjukkan penerimaan informasi yg terjadi saat konsumen dan pemrosesan informasi terjadi saat konsumen mengevaluasi informasi dari periklanan, teman atau pengalaman sendiri. Kedua, karakteristik pribadi konsumen meliputi persepsi, sikap, manfaat serta karakteristik konsumen (demografi, kepribadian dan gaya hidup). Ketiga, respon konsumen merupakan hasil akhir dari prose keputusan konsumen dan suatu pertimbangan yg menyeluruh dari semua faktor di atas.

Menurut Alfianasari (2008:78) dalam penelitian menyatakan keputusan pembelian konsumen merupakan sikap konsumen dalam menentukan arah dan tujuan akhir dalam proses pembelian suatu produk. Terdapat beberapa faktor internal yg relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian konsumen (Alfianasari, 2008:79):
  1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yg ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu. 
  2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yg diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
  3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yg ada dalam diri seseorang yg mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal. 
  4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yg diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.
Individu dalam hal ini konsumen terbuka terhadap berbagai pengaruh yg cenderung membelokkan persepsi mereka, yaitu (Alfianasari, 2008:82):
  1. Penampilan fisik, berbagai studi mengenai penampilan fisik telah menemukan bahwa model yg menarik lebih persuasif dan mempunyai pengaruh yg lebih positif terhadap sikap dan perilaku konsumen dari pada model yg kelihatannya biasa saja. 
  2. Stereotip, stereotip ini menimbulkan harapan mengenai bagaimana situasi, orang, atau peristiwa tertentu akan terjadi dan ini merupakan faktor penentu yg penting bagaimana stimuli tersebut kemudian dirasakan.
  3. Petunjuk yg tidak relevan, ketika diperlukan untuk membuat pertimbangan yg sulit melalui persepsi para konsumen sering kali memberikan respon terhadap stimuli yg tidak relevan. 
  4. Kesan pertama, cenderung bersifat pribadi. Namun, dalam membentuk kesan yg seperti itu penerima  belum  mengetahui  stimuli  mana  yg  relevan, penting atau  yg dapat diramalkan akan menjadi perilaku lainnya. 
  5. Terlalu cepat mengambil kesimpulan. Banyak orang yg cenderung terlalu cepat mengambil kesiumpulan sebelum meneliti semua keterangan atau bukti yg berhubungan.
Faktor eksternal meliputi lingkungan budaya, kelas sosial, pengaruh personal, keluarga dan situasi setempat. Sedangkan faktor internal mencakup sumber daya yg dimiliki setiap individu konsumen (waktu, uang, perhatian dan lain-lainl), motivasi dan keterlibatan diri, pengetahuan, sikap, serta unsur-unsur psikografis dan demografisnya (Engel, 2005:45).
Sumber : Kotle, dkk, 2010:13)

Berdasarkan gambar di atas proses pengambilan keputusan pembelian secara rinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah
Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah. Pembeli merasakan adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan suatu perbedaan antara keadaannya yg aktual dan keadaannya yg diinginkan. Kebutuhan ini dapat dipicu oleh rangsangan internal maupun rangsangan eksternal.
b. Pencarian Informasi
Seorang konsumen yg terdorong kebutuhannya mungkin atau mungkin juga tidak mencari informasi lebih lanjut. Jika dorongan konsumen itu kuat dan objek pemuas kebutuhan yg telah ditentukan dengan baik itu berada didekatnya, sangatlah mungkin konsumen akan lalu membelinya. Jika tidak, maka kebutuhan konsumen ini hanya menjadi ingatan belaka.
c. Evaluasi Alternatif
Setelah melakukan pencarian informasi  sebayak mungkin tentang banyak hal, selanjutnya konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi berbagai merek alternatif di dalam serangkaian pilihan. Keputusan membeli Perilaku pasca pembelian Mengenali kebutuhan Pencarian informasi Evaluasi alternative.
d. Keputusan Membeli
Setelah tahap pengevaluasian selesai, sekarang saatnya bagi pembeli untuk menentukan keputusan pembelian, apakah jadi membeli atau tidak terhadap keputusan yg menygkut harga, manfaat produk yg diharapkan, merek, kualitas dan lain sebagainya.
e. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau tidak ada kepuasan. Pembeli yg puas akan kembali membeli produk, berbicara yg menyenangkan tentang produk itu, lebih sedikit memperhatikan merek dan iklan pesaing, serta membeli produk lain dari perusahaan yg sama. Sementara pembeli yg tidak puas akan memberikan tanggapan secara berbeda. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengukur kepuasan konsumen secara teratur.