Home » » Pengertian Semangat Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Semangat Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Semangat Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Semangat Kerja Menurut Para Ahli

Pengertian Semangat Kerja

Berhasil tidaknya suatu kegiatan organisasi sangat tergantung pada semangat kerja karwayan. Masalah semangat kerja pegawai merupakan suatu hal yg sangat penting dan harus mendapat perhatian dalam setiap organisasi. Tanpa adanya semangat kerja yg besar pada diri setiap pegawai yg ada dalam suatu perusahaan maka mereka tidak akan berkerja dengan memberikan hasil yg maksimal. Untuk lebih memahami pengertian dari semangat kerja tersebut terdapat beberapa pendapat para ahli, yaitu :

Wursanto (2001:149) mengemukakan bahwa:
Semangat kerja (morale) ayau moral adalah suatu keadaan yg sangat erat hubungannya dengan aspek mental seseorang. Jadi semangat kerja merupakan suatu kondisi mental seseorang yg memberikan timbulnya semangat kerja seseorang (morale individi) dan semangat kerja kelompok (moral group). Semangat kerja perorangan adalah kemauan atau semangat seseorang untuk menyumbangkan tenaga maupun pemikirannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Semangat kerja kelompok adalah kemauan atau semanngat kerja dari setiap kelompok orang-orang secara bersama-sama untuk menyumbangkan tenaga atau pikirannya mencapai tujuan bersama.

Kondisi mental pegawai sangat mempengaruhi produktifitaskerja perusahaan, dimana tingkat produktifitas sangat tergantung pada prestasi pegawai itu sendiri. Peran seorang pemimpin dalam meningkatkan semangat kerja sangat diharapkan. Hal ini disebabkan dalam satu perusahaan. Seorang manajer tidak akan mampu berkerja sendiri dalam mencapi tujuan, tetapi manajer harus mampu mengarahkan bawahannya agar mampu berkerja dengan lebih baik sesuai dengan yg di harapkan dan apabila bawahan tersebut tidak akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yag diharapkan, maka manajer perlu mengetahui sebab-sebabnya. Banyak factor yg menyebebkan hai ini bisa terjadi, salah satunya yaitu kurangnya semangat kerja pegawai didalam pekerjaannya.
Pengertian semangat kerja menurut Alexander Leighten dalam bukunya Moekijat (2002:130) mengatakan bahwa:

Semangat atau moril kerja kemampuan sekelompok orang untuk berkerja sama dan giat serta konsekuen dalam mengejar tujuan bersama. Berkerjasama dengan menekankan dengan tegas hakikat saling hubungan dari satu kelompok dengan keinginan yg nyata untuk berkerjasama. Dengan giat dan konsekuen menunjukkan caranya untuk sampai menjelaskan baha tujuannya adalah satu yg mereka inginkan. Semangat kerja adalah kegiatan perasaan untuk keperluan suatu sebab atau kegembiraan yg dimiliki dalam setiap usaha.

Sedangkan Konssen (2000:227) menjelaskan bahwa:
Semangat kerja adalah hal yg sukar ditangkap, tidak mudah didefinisikan, dikendalikan, atau diukur, namun mmancarkan pengaruh yg kuat atas iklim hubungan manusiawi setiap organisasi. Pada umumnya semangat mengacu pada sikap-sikap pegawai baik terhadap organisasi-organisasi yg memperkerjakan mereka, maupun terhadap faktor-faktor pekerjaan yg khas. Namun demikian definisi semangat kerja dapat ditanggapi sebagai suasana yg ditimbulkan oleh sikap para anggota suatu organisasi. Ia dipengaruhi oleh bagaiman pegawai menanggapi organisasi tersebut dan saran-saran dalam hubungannya dengan mereka sendiri.

Siswanto (2000:264), semangat kerja adalah suatu kondisi rohaniah, atau perilaku individu tenaga kerja dan kelompok yg menimbulkan kesenangan yg mendalam pada diri tenaga kerja untuk berkerja dengan giat dalam mencapai tujuan yg lebih ditetapkan oleh perusahaan.

Selanjutnya Nitisemito (2001:199) mengemukakan pengertian tentang semangat kerja adalah suatu keadaan dimana tingkah laku, sifat dari pada orang-orang yg teratur baik, mempunyai hubungan erat dengan ditaati peraturan dan kebijaksanaan kerja dalam sebuah organisasi dan perusahaan.

Dari pernyataan diatas unsur giat dan teratur merupakan ukuran intensitas, dimana bila seseorang memiliki semangat kerja yg tinggi ia akan memberikan hasil kinerja/prestasi kerja yg menguntungkan untuk mencapai tujuan organisasi. Tinggi rendahnya semangat kerja dari seseorang pegawai dapat dilihat dari perilakunya terhadap pencapaian yg telah ditetapkan.

Perilaku yg diwujudkan juga dapat menunjukkan semangta kerja bagaimana yg sesuai bagi setiap pegawai. Suatu bentuk atau model semangat kerja akan efektif bagi seseorang tetapi belum efektif bagi yg lain. Hal ini disebabkan kebutuhan yg ingin dipuaskan dengan berkerja antara individu yg satu dengan yg lainnya berbeda. Jadi perusahaan melalui manajemennya harus mampu mnyesuaikan kebutuhan pegawai dalam usaha memberikan semangat  kerja yg tepat.

Siswanto (2000:265) menyatakan sebab-sebab pasang surutnya semangat kerja pegawai yaitu :
  1. Setiap tenaga kerja niscaya akan terus memantau lingkungan kerjanya untuk memperoleh tanda-tanda yg mungkin mempengaruhi keberuntungan psikologinya.
  2. Berbagai macam informasi mengenai pekerjaan dinilai sebagai dukungan moral, atau sebagai tekanan, atau juga sebagai sesuatu yg netral.
  3. Dampak keputusan manjemen yg tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Moral yg baik erat hubungannya dengan human relation yg baik, yaitu dikarenakan semangat kerja seseorang yg sangat tergantung pada hal-hal berikut :
  1. Kepercayaan seseorang individu sebagai anggota kelompok kepada organisasi tempat ia berkerja.
  2. Kepercayaan terhadap pemimpinnya.
  3. Kepercayaan satu sama lain sesama anggota.
  4. Teratur tidaknya penghasilan yg dapat diterima oleh anggota-anggota kelompok tersebut.
Namun menurut Hamid dan Zamzami (2000:83) semangat kerja seseorang juga sangat tergantung pada keadaan mental, perasaan dan kesehatan jasmani orang-orang itu.

Sedangkan Siswanto (2000:268) secara umum cara yg bisa ditempuh oleh manajemen dalam rangka meningkatkan semangat kerja pegawai melalui ancangan sebagai berikut :
  1. Memberikan kompensasi kepada tenaga kerja dalam porsi yg wajar, akan tetapi tidak memaksakan kemauan perusahaan.
  2. Menciptakan iklim dan lingkungan kerja yg menggairahkan bagi semua pihak.
  3. Memperhatikan kebutuhan yg berhubungan dengan spiritual tenaga kerja. 
  4. Perlu saat penyegaran sebagai media pengurangan ketegangan kerja dan memperkokoh rasa setia kawan antara tenaga kerja maupun manajemen.
  5. Penempatan posisi tenaga kerja pada posisi yg tepat.
Hamid dan Zamzami (2000:83) juga menambahkan untuk meningkatkan semangat kerja pegawai. Perlu adanya peran serta tenaga kerja untuk menyumbangkan aspirasinya untuk mendapatkan tempat yg wajar.

Indikator Semangat Kerja

Indikator semangat kerja sangat penting untuk diketahui dalam suatu organisasi, karena dengan petunjuk tersebut kita dapat menilai apakah semangat kerja pegawai tinggi atau rendah. Moekijat (2002:138) mengemukakan bahwa indikasi semangat kerja yg tinggi ditunjukkan oleh perasaan senang,optimis mengenai kegiatan-kegiatan dan tugas kelompok serta ramah tamah satu sama lain, sedangkan semangat kerja yg rendah ditunjukkan oleh perasaan tidak puas, lekas marah, sering sakit, suka membantah, gelisah dan pesimistis.

As’ad (2000:27) juga mengatakan bahwa ada empat indikator yg mempengaruhi semangat kerja yaitu :
  1. Kedisiplinan kerja, yaitu usaha untuh mematuhi peraturan yg dikeluarkan perusahaan untuk dilaksanakan oleh pegawai.
  2. Ketelitian kerja, yaitu sejauh mana pegawai mempunyai rasa kecermatan kerja, sehingga kesalahan dalam berkerja mebjadi sangat rendah.
  3. Kegairahan kerja, yaitu adanya keinginan yg tinggi dari pegawai dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
  4. Kerajinan kerja, yaitu pegawai dalam mengemban tugas-tugas dan tanggung jawab mempunyai rasa kesungguhan berusaha.

Beberapa Cara Meningkatkan Semangat Kerja

Adapun sebahagian pendapat yg mengatakan bahwa upah yg tinggi dalam bentuk uang adalah cara yg tepat untuk meningkatkan semangat kerja pada tahap pertama mungkin akan mampu meningkatkan semangat kerja  dengan memberikan tingkat upah yg tinggi  tetapi pada tingkat tertentu menaikkan upah lebih tinggi lagi dianggap kurang efektif.

Beberapa cara yg digunakan untuk meningkatkan semangat kerja yg tinggi, baik yg sifatnya material maupun non material menurut Nitisemito (2000:170) adalah sebagai berikut :
  1. Gaji yg cukup.
  2. Memperhatikan kebutuhan rohani.
  3. Sesekali perlu menciptakan suasana santai.
  4. Harga diri pegawai perlu mendapatkan perhatian.
  5. Tempatkan pegawai pada posisi yg tepat.
  6. Berikan kesempatan untuk maju. 
  7. Perasaan aman untuk menghadapi masa depan perlu diperhatikan. 
  8. Usahakan para pegawai mempunyai loyalitas.
  9. Pemberian insentif yg terarah.
  10. Fasilitas yg menyenangkan. 
Dalam mendorong dan memelihara semangat kerja pegawai dapat pula dilaksanakan melalui tehnik pengawasan dan kebijaksanaan manajemen seperti (Nitisemito, 2001:195) :
  1. Pengawas wajib memperlihatkan kegairahannya.
  2. Memberi pujian 
  3. Memasukkan kepentingannya sendiri dalam kepentingan orang lain.